Kredit Foto: Istimewa
Joko Widodo (Jokowi) dinilai telah mencatatkan capaian politik yang sulit ditandingi mantan presiden lain di era Reformasi setelah berhasil mengantarkan putranya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi Wakil Presiden RI. Namun, perjalanan politik Jokowi disebut belum sepenuhnya selesai.
Salah satu ambisi yang dinilai masih ingin diwujudkan adalah memiliki kendaraan politik sendiri yang mampu menembus parlemen. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kemudian disebut menjadi salah satu kendaraan yang tengah dipersiapkan Jokowi.
Analisis tersebut disampaikan Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan dalam siniar Total Politik yang tayang Kamis (13/8/2026). Dalam siniar itu, Djayadi membahas manuver Jokowi yang kini disebut semakin mengasosiasikan dirinya dengan PSI.
Secara politik, Jokowi dinilai telah melampaui sejumlah elite nasional dalam hal mengantarkan anggota keluarganya ke posisi strategis. Namun, berbeda dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri yang memiliki partai dengan kekuatan di parlemen, Jokowi belum memiliki kendaraan politik yang berhasil menembus DPR.
"Obsesi menjadikan putra jadi Wapres sudah melebihi elit-elit lain di Indonesia. Pak SBY belum, Bu Mega belum. Dalam hal itu Pak Jokowi sudah berhasil sendiri," ujar pembawa acara Total Politik.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu alasan Jokowi terus membangun kedekatan dengan PSI. Terlebih, sejumlah hasil survei pada Juli 2026 menunjukkan adanya peningkatan elektabilitas partai tersebut.
Sebelumnya diketahui, survei SMRC dan Indikator menunjukkan elektabilitas PSI berada di kisaran 3 hingga 4,1 persen. Angka tersebut disebut sebagai capaian tertinggi PSI dan mulai mendekati ambang batas parlemen.
Djayadi melihat perkembangan itu menarik karena terjadi ketika tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran disebut mengalami penurunan.
"Kalau kita lihat data SMRC dan Indikator, peluang PSI untuk lolos ke parlemen itu tampak mulai ada. Dan itu kebetulan bisa dikaitkan dengan upaya Pak Jokowi untuk lebih mengasosiasikan dirinya kepada PSI," jelas Djayadi.
Ia juga mengungkap adanya eksperimen survei yang menunjukkan pengaruh Jokowi terhadap peningkatan elektabilitas PSI. Dalam simulasi tersebut, efek Jokowi disebut dapat mengatrol suara PSI hingga 10 persen.
Djayadi menilai penguatan PSI tidak hanya berkaitan dengan kepentingan politik jangka pendek. Langkah tersebut juga dapat dibaca sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2029.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah masa depan Gibran. Peluang Gibran kembali menjadi calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029 dinilai tidak mudah karena banyak partai pendukung pemerintah saat ini berpotensi mengajukan kadernya sendiri.
Baca Juga: PSI Disebut Mulai Dapatkan Efek Jokowi, Dekati Ambang Batas Parlemen
Secara historis, Djayadi mengingatkan bahwa presiden di era pemilihan langsung seperti SBY dan Jokowi tidak menggunakan wakil presiden yang sama untuk periode keduanya.
"Kalau Pak Jokowi pasti mempersiapkan diri untuk skenario sendiri. Banyak tantangan untuk memajukan kembali Gibran sebagai calon Wapres Pak Prabowo di 2029. Maka solusinya buat Pak Jokowi hari ini adalah menyiapkan partai PSI," urai Djayadi.
Jika PSI berhasil masuk DPR, Jokowi akan memiliki kendaraan politik sendiri untuk menghadapi dinamika politik 2029. Apalagi, jika putusan Mahkamah Konstitusi mengenai penghapusan Presidential Threshold benar-benar diterapkan, keberadaan partai di parlemen dapat memberikan ruang politik yang lebih besar.
Dengan demikian, meski tidak lagi berada di Istana, pengaruh Jokowi dalam politik nasional dinilai masih terus bergerak. PSI menjadi salah satu titik penting dalam membaca arah manuver politik mantan presiden tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: