Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekspor Minyak Atsiri RI Tembus Rp5,6 Triliun, Indonesia Jadi Eksportir Terbesar Kelima Dunia

Ekspor Minyak Atsiri RI Tembus Rp5,6 Triliun, Indonesia Jadi Eksportir Terbesar Kelima Dunia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri minyak atsiri Indonesia mulai menunjukkan taji di pasar global. Sepanjang 2025, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai US$348,7 juta atau sekitar Rp5,6 triliun, berdasarkan data perdagangan pada HS 3301.

Angka tersebut melonjak 34,4 persen dibandingkan ekspor pada 2024 yang tercatat sebesar US$259,5 juta. Dengan capaian itu, Indonesia menjadi eksportir minyak atsiri terbesar kelima dunia setelah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kenaikan ekspor tersebut menunjukkan permintaan terhadap produk minyak atsiri Indonesia masih cukup kuat di pasar internasional.

"Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Namun, peluang industri ini dinilai tidak berhenti pada ekspor bahan baku. Salah satu produk yang punya ruang besar untuk dikembangkan lebih jauh adalah minyak nilam atau patchouli oil.

Pada 2025, ekspor minyak nilam Indonesia mencapai US$173,4 juta. Nilainya naik 22,7 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka US$141,3 juta.

Pasarnya pun sudah tersebar di berbagai negara, mulai dari India, Singapura, Prancis, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Turki.

Minyak Nilam Naik Kelas

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan minyak nilam memiliki peluang untuk tidak sekadar dijual sebagai bahan baku. Dengan teknologi pemurnian dan fraksinasi, komoditas tersebut bisa diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Beberapa di antaranya yakni hi-grade patchouli, bahan parfum dan fragrance, antiseptik, medicated oil, hingga produk aromaterapi.

"Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku," kata Putu.

Baca Juga: Kemenperin Dorong IKM Lokal Jadi Pemasok Komponen Kendaraan Listrik

Baca Juga: Molinas Diluncurkan, Kemenperin Dorong Indonesia Tak Cuma Jadi Pasar

Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

Menurut dia, peluang tersebut juga bisa membuka akses minyak nilam ke industri yang lebih beragam, seperti parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi.

Artinya, pengembangan minyak atsiri tidak hanya soal meningkatkan angka ekspor. Ada peluang untuk membawa komoditas yang selama ini banyak dijual sebagai bahan baku menjadi produk jadi atau setengah jadi dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Hulu dan Hilir Perlu Diperkuat

Meski peluangnya besar, pengembangan industri minyak atsiri tetap bergantung pada kondisi di sisi hulu. Kualitas dan ketersediaan bahan baku menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar industri hilir bisa berkembang secara konsisten.

Putu menyebut penguatan ekosistem perlu melibatkan petani, penyuling, koperasi, pelaku industri hingga lembaga riset dan perguruan tinggi.

"Penguatan industri atsiri membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra pasar untuk membangun ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir," ujar Putu.

Selain minyak nilam, pengembangan minyak atsiri juga bisa diarahkan ke berbagai produk lain, seperti parfum, fragrance, antiseptik, disinfektan, medicated oil, aromaterapi, hingga produk kosmetik dan perawatan tubuh.

Putu menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal untuk mengembangkan industri tersebut, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga pasar ekspor yang sudah terbentuk.

"Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan industri minyak atsiri. Kita perlu memastikan peluang ini diterjemahkan menjadi industri hilir yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri," jelas Putu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan