Kredit Foto: Ist
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto, menduga ada desain politik dari lingkaran dalam istana yang sengaja merusak citra Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Henri, hal itu dilakukan melalui serangkaian blunder pidato Prabowo yang seolah sengaja dibiarkan terjadi, sehingga memicu kemarahan dan ketidakpuasan publik.
"Jangan-jangan memang ada desain untuk supaya presiden kelihatan buruk. Saya tidak ingin seperti itu. Tapi orang bisa aja mempersepsi seperti itu, menganalisis seperti itu bahwa presiden sengaja untuk biar kelihatan buruk," ucapnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Jumat (21/8).
Henri menggunakan istilah “kuda Troya” sebagai metafora bagi pihak yang tampak loyal kepada Prabowo, namun sebenarnya merupakan musuh politik yang menyusup di dalam istana.
"Memang di dalamnya ada semacam kuda troya yang ada di dalam istana, tapi yang sebenarnya itu ada musuh. Musuh politik. Itu kan perlu semua analisis semua gitu loh," jelasnya.
Henri menilai kesalahan data bisa menjadi bahan bakar bagi pihak yang ingin merusak citra Prabowo dari dalam.
Ia menambahkan, jika memang kelemahan pribadi Prabowo seperti mudah lupa atau emosional sering muncul, maka seharusnya ada mekanisme pengaman.
"Kalau memang Pak Prabowonya sendiri secara pribadi dia memang bermasalah dalam artian sering mudah lupa emosional dan sebagainya, maka dibuat mekanisme Pak Presiden harus taat kepada telepromter, pada naskah yang dibaca," tandasnya.
Salah satu blunder yang paling disorot publik terjadi dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). Saat itu, Prabowo memperkenalkan sosok Susana, buruh pengupas bawang dari Bogor, yang disebut menerima upah Rp700 ribu per kilogram bawang yang dikupas.
Baca Juga: Lodewyk Pusung: Dapur MBG Milik Nanik S Deyang Sering Diklaim 'Punya Prabowo'
"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram," kata Prabowo, dikutip dari YouTube TV Parlemen.
Padahal, menurut data resmi Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga rata-rata bawang merah nasional hanya Rp34.546 per kilogram, sementara bawang putih Honan sekitar Rp35.800 per kilogram.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: