Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menyebabkan kabut asap tebal. BMKG mengungkap kondisi iklim kering akibat El Nino menjadi salah satu faktor yang memicu karhutla.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi kering membuat lahan mudah terbakar. Situasi tersebut juga menyebabkan asap dari kebakaran lebih banyak muncul.
"Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap," kata Ardhasena kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan monitoring BMKG pada Dasarian I Agustus 2026, indeks ENSO menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Nilai SSTA di wilayah Nino3.4 tercatat +2,77 atau meningkat dari +2,20 pada Juli.
Sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) saat ini mengalami musim kemarau. Untuk Kalimantan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur berstatus waspada, sedangkan Kalimantan Tengah berstatus siaga.
"Masih banyak titik api yang perlu dimitigasi," ungkap Ardhasena.
Kementerian Kehutanan sebelumnya mencatat peningkatan signifikan hotspot karhutla di Kalimantan. Pada 19 Agustus 2026, terdapat 259 hotspot di Kalimantan Barat, 242 di Kalimantan Tengah, dan 17 di Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan! Ini Daftar Penerbangan yang Dibatalkan dan Delay
Total hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut mencapai 518 titik. Jumlah itu meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan 109 hotspot yang tercatat pada 18 Agustus.
Secara kumulatif pada 17-19 Agustus 2026, Kemenhut mencatat 750 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy