Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali mengalami peningkatan setelah sempat turun drastis. Kondisi yang berubah cepat dari hari ke hari membuat pemerintah meminta pemantauan terus dilakukan agar titik yang berpotensi menjadi kebakaran aktif bisa segera ditangani.
Merespons hal itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya pemantauan fluktuasi hotspot secara berkala. Menurutnya, kecepatan petugas menuju lokasi menjadi salah satu kunci agar api tidak telanjur membesar dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.
"Aksi cepat melakukan pemadaman dan pembasahan bisa menekan api semakin membesar dan meluas akhirnya sulit dikendalikan," katanya di Banjarbaru, dikutip dari Antara, Minggu (23/8/2026).
Baca Juga: Media Malaysia Sorot Upaya Pemerintah Tangani Kabut Asap Imbas Karhutla Kalimantan
Untuk memudahkan pemantauan, Kementerian Kehutanan telah memiliki aplikasi sekaligus website Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi). Sistem tersebut dapat digunakan petugas gabungan untuk memantau pergerakan titik panas secara realtime.
Data yang ditampilkan dalam peta SiPongi berasal dari sejumlah satelit NASA, yakni NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20 dengan tingkat akurasi tinggi.
Raja Juli mengungkapkan kondisi di Kalimantan Selatan menunjukkan perubahan hotspot yang sangat cepat. Jumlahnya dapat melonjak dalam satu hari, kemudian kembali turun secara signifikan.
Berdasarkan data SiPongi, tercatat 157 titik panas pada 21 Agustus. Angka tersebut kemudian anjlok menjadi 11 titik pada Sabtu (22/8) pukul 22.00 Wita.
Baca Juga: Karhutla Meluas! Menhut Raja Juli Ultimatum Pembakar Lahan: Perintah Presiden...
Namun, penurunan tersebut ternyata belum menjadi tanda bahwa situasi sepenuhnya aman. Pada Minggu pagi (23/8) pukul 06.00 Wita, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 44 titik yang tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.
"Mudah-mudahan dengan kerja keras petugas gabungan Manggala Agni, BPBD, TNI-Polri dibantu relawan barisan pemadam kebakaran dari masyarakat bisa terus menurunkan titik panas di Kalsel hingga karhutla bisa dikendalikan sepenuhnya," ujar Menhut.
Senada, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat adanya peningkatan titik panas sekaligus sebaran asap karhutla di Kalimantan dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut membuat pemerintah memperkuat operasi penanganan, baik melalui udara maupun darat.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan penguatan dilakukan dengan menambah armada udara untuk mendukung water bombing dan patroli. Saat ini, BNPB menyiagakan 30 unit helikopter untuk wilayah Kalimantan dan 22 unit helikopter untuk membantu penanganan karhutla di Sumatra.
Jumlah armada tersebut masih dapat ditambah menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Penambahan juga akan mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto serta hasil koordinasi dengan Kementerian Pertahanan.
Tak hanya mengandalkan operasi udara, pemerintah memperkuat satgas darat dengan berbagai perlengkapan tambahan. Personel dibekali Alat Pelindung Diri (APD) serta pompa air bertekanan tinggi atau high-pressure pump untuk meningkatkan efektivitas pemadaman.
"Penguatan ini ditujukan untuk memastikan proses pemadaman di darat dapat berjalan lebih efektif. Pemerintah juga mengalokasikan dukungan berupa mobil tangki air hingga 100 unit untuk setiap provinsi sesuai kebutuhan. Armada tersebut akan memperkuat distribusi air bagi operasi pemadaman darat di wilayah kabupaten dan kota yang terdampak Karhutla," ujarnya.
Selain memperkuat pasukan dan armada, BNPB kembali mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi karhutla. Berdasarkan evaluasi teknis bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penyemaian awan menggunakan garam dapat kembali dilakukan secara intensif di wilayah Kalimantan pada Minggu (23/8).
"OMC menjadi salah satu prioritas kita. Hari ini sudah bisa kembali dilaksanakan secara intensif berdasarkan kondisi awan yang tersedia. Kita berharap hujan dapat segera turun di wilayah-wilayah yang membutuhkan sehingga membantu proses pemadaman di lapangan," jelas Suharyanto.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: