AS Mainkan Lagi Ancaman Tarif Dagang, Balik Terancam Kekurangan Energi
Kredit Foto: Istimewa
Perang dagang antara Kanada dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas. Kanada mulai menggunakan posisi strategisnya sebagai pemasok energi dan bahan baku penting untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ancaman tersebut muncul setelah AS menerapkan tarif impor hingga 50 persen terhadap sejumlah barang asal Kanada. Ottawa pun mempertimbangkan berbagai opsi balasan, termasuk kemungkinan membatasi pasokan listrik, minyak, dan gas alam ke AS.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan posisi negaranya sebagai salah satu pemasok utama energi bagi AS. Menurutnya, ketergantungan Washington terhadap pasokan energi dari Kanada menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam konflik perdagangan kedua negara.
Meski penghentian pasokan energi belum secara resmi dimasukkan dalam paket tarif balasan Kanada, opsi tersebut tetap dipertimbangkan dalam perundingan.
Premier Ontario Doug Ford bahkan mengusulkan penerapan energy surcharge sebesar 25 persen terhadap ekspor listrik ke AS. Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap pasokan energi bagi sekitar 1,5 juta rumah tangga dan pelaku usaha di Michigan, Minnesota, hingga New York.
Selain energi, Kanada memiliki posisi penting dalam rantai pasok sejumlah komoditas yang dibutuhkan AS. Kanada merupakan pemasok utama potas yang digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk sektor pertanian AS.
Kanada juga menjadi salah satu sumber utama mineral yang dibutuhkan industri Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat Ottawa memiliki kartu tawar tambahan dalam menghadapi tekanan perdagangan dari Washington.
Ford menilai pemerintah AS telah meremehkan posisi Kanada dalam hubungan ekonomi kedua negara. Ia bahkan menegaskan Ontario dapat membatasi akses sumber daya alam bagi AS sebagai bagian dari respons terhadap kebijakan Washington.
Ancaman tersebut menunjukkan bahwa perang dagang tidak hanya berpotensi memengaruhi perdagangan barang, tetapi juga dapat merembet ke sektor energi dan rantai pasok bahan baku strategis.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Kanada pada Selasa (25/8/2026) mengumumkan tarif balasan hingga 50 persen terhadap hampir 900 produk asal AS dengan nilai sekitar US$20 miliar.
Tarif tersebut mencakup sejumlah produk seperti baja, furnitur, pakaian katun, hingga komoditas lainnya. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September 2026.
Langkah Ottawa diambil setelah perundingan perdagangan dengan Washington menemui jalan buntu. Carney menyebut tuntutan akhir dari pemerintah AS terlalu berat bagi Kanada.
Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne juga menyiapkan dana tambahan sebesar 7,5 miliar dolar Kanada untuk membantu bisnis dan pekerja lokal yang terdampak kebijakan tarif AS.
Paket tarif balasan Kanada mencakup bea masuk 50 persen untuk produk baja, aluminium, kosmetik, dan furnitur dari AS. Sementara sejumlah peralatan rumah tangga dan produk susu dikenai tarif 25 persen.
Ketegangan perdagangan turut diikuti perselisihan politik antara kedua negara. Trump berulang kali melontarkan gagasan agar Kanada bergabung dengan AS sebagai negara bagian ke-51.
Sikap tersebut mendapat penolakan dari pejabat Kanada. Ford termasuk salah satu pejabat yang paling keras mengkritik pendekatan Washington dalam menghadapi Ottawa.
Baca Juga: Netanyahu Klaim Iran Berusaha Bunuh Anaknya di Tengah Perang dengan AS
Respons juga datang dari Menteri Transportasi AS Sean Duffy yang menyebut anggapan Kanada dapat menghadapi Trump sebagai tindakan yang tidak masuk akal.
Analis Inggris Tom Walker menilai perkembangan tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam hubungan antara Washington dan Ottawa. Perselisihan yang semula berpusat pada tarif kini berkembang menjadi pertarungan kepentingan yang mencakup energi, mineral, politik, dan hubungan antarnegara.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: