Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ribuan Ton Bantuan Tersedia, BNPB Kesulitan Jangkau Pengungsian Terpencil di Flores

Ribuan Ton Bantuan Tersedia, BNPB Kesulitan Jangkau Pengungsian Terpencil di Flores Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Flores -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan ketersediaan logistik untuk penanganan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencukupi. Persoalan utama yang dihadapi pemerintah kini bukan kekurangan bantuan, melainkan distribusi dari pusat logistik menuju masyarakat di titik-titik pengungsian yang tersebar hingga wilayah terpencil.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, hingga hari ke-12 penanganan gempa, bantuan logistik yang masuk melalui berbagai jalur telah mencapai ribuan ton. Bahkan, sejumlah titik distribusi disebut memiliki stok yang cukup besar.

“Artinya kami laporkan baik di Halim Perdanakusuma, di Labuan Bajo maupun di Maumere ini barang cukup banyak bertumpuk,” ujar Suharyanto saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi penanganan gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).

Berdasarkan laporan BNPB, sebanyak 2.032 ton bantuan logistik telah masuk melalui Posko Nasional di Halim Perdanakusuma. Dari jumlah tersebut, 1.539 ton telah didistribusikan, terdiri atas 1.035 ton menuju wilayah Labuan Bajo dan 504 ton menuju Maumere.

Selain melalui jalur udara, pemerintah juga mengoptimalkan distribusi bantuan menggunakan jalur darat dan laut. Pengiriman melalui pesawat TNI AU telah mencapai 34 sorti dengan total 445 ton, sedangkan penerbangan komersial mencapai 61 sorti dengan total 915 ton. Sementara itu, distribusi melalui jalur laut tercatat sebanyak 179 ton.

BNPB juga mencatat bantuan yang dikirim langsung menuju Labuan Bajo mencapai sekitar 2.069 ton. Adapun bantuan yang masuk langsung ke Maumere mencapai 448 ton, dengan sekitar 332,9 ton telah dikeluarkan untuk didistribusikan kepada masyarakat.

Suharyanto mengatakan, bantuan tersebut berasal dari berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga pemerintah, TNI-Polri, sektor swasta, hingga pemerintah daerah lainnya.

“Banyak sekali bantuan dari kementerian lembaga, dari TNI Polri, dari swasta, dari pemerintah-pemerintah daerah lainnya juga banyak membantu ke sini,” katanya.Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Sekolah di Lokasi Gempa Tak Boleh Berhenti

Dengan kondisi tersebut, BNPB menyatakan kebutuhan logistik dasar masyarakat selama masa tanggap darurat tidak mengalami kendala berarti. Namun, tantangan muncul ketika bantuan harus dibawa dari pusat distribusi menuju kecamatan, desa, hingga lokasi pengungsian yang sulit dijangkau.

Menurut Suharyanto, tingginya aktivitas gempa membuat banyak warga memilih mengungsi secara mandiri di lokasi yang tersebar. Kondisi ini membuat pemerintah harus menjangkau masyarakat hingga titik-titik terpencil.

“Kendala kami logistik itu harus bisa sampai ke titik yang terjauh,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mengerahkan berbagai moda transportasi. BNPB menyiapkan 50 truk untuk distribusi dari Labuan Bajo menuju sejumlah kabupaten dan 40 truk dari Maumere menuju tiga kabupaten lainnya.

Selain truk, pemerintah juga menggunakan sekitar 200 sepeda motor untuk mengirimkan bantuan ke lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan besar. Bahkan, personel TNI turut dilibatkan untuk membantu distribusi hingga ke titik pengungsian.

“Kami juga dibantu masih sepeda motor untuk susah-susah jalan-jalan kecil,” kata Suharyanto.

Pemerintah juga mengoperasikan enam kapal besar untuk mendukung distribusi bantuan antardaerah, sementara sejumlah kapal lainnya digunakan untuk menjangkau wilayah kepulauan, termasuk Pulau Palue di Kabupaten Sikka.

Suharyanto menegaskan, secara umum jalur distribusi bantuan dari Jakarta menuju NTT tidak menghadapi kendala berarti. Persoalan justru berada pada tahap akhir distribusi atau last mile, yakni saat bantuan harus bergerak dari kecamatan dan desa menuju lokasi warga yang tersebar.

“Kesulitan kami yang dari kecamatan, dari desa menuju orangnya itu aja butuh waktu supaya kita jalan kaki, naik motor seperti itu,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi infrastruktur dan layanan dasar mulai menunjukkan pemulihan. BNPB melaporkan jaringan listrik secara umum telah pulih, meski masih terdapat wilayah seperti Pulau Palue yang dalam proses pemulihan. Telekomunikasi juga relatif telah kembali normal, sementara pasokan BBM tidak lagi mengalami antrean seperti pada fase awal bencana.

Dengan demikian, fokus pemerintah pada fase tanggap darurat saat ini bergeser dari memastikan ketersediaan bantuan menuju memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan lokasi pengungsian mandiri.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah