Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Sempat Tertekan di Pembukaan, Kemudian Naik ke Zona Hijau

IHSG Sempat Tertekan di Pembukaan, Kemudian Naik ke Zona Hijau Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka melemah pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Namun, tekanan tersebut hanya berlangsung singkat. Dalam empat menit pertama perdagangan, IHSG berbalik menguat dan kembali masuk ke zona hijau.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.390,35. Angka tersebut turun 15,33 poin atau 0,24% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.405,68.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.390. Indeks kemudian bergerak fluktuatif dengan sempat menyentuh level tertinggi 6.418 dan level terendah 6.376 dalam empat menit pertama.

Pergerakan pasar juga masih didominasi saham yang terkoreksi. Sebanyak 206 saham tercatat melemah, sementara 126 saham menguat dan 304 saham lainnya bergerak stagnan.

Aktivitas transaksi pada awal perdagangan tercatat cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp155,43 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 309,47 juta saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat mencapai 34.464 kali.

IHSG Dibayangi Sentimen Eksternal

Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperikan IHSG bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (27/8/2026). IHSG berada dalam rentang 6.350 hingga 6.450.

Proyeksi tersebut muncul di tengah sentimen eksternal yang cenderung menekan pasar. Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026), setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Juli 2026 menunjukkan angka sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

Inflasi PCE tercatat sebesar 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Juli 2026. Angka tersebut berada di atas konsensus pasar sebesar 3,6%.

Di sisi lain, ekonomi AS tumbuh 1,5% pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 2,1%, meski masih sesuai dengan perkiraan pasar.

Data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool per 26 Agustus 2026, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi hampir 64%.

Baca Juga: IHSG Dibayangi Sentimen Global, Diproyeksi Bergerak di 6.350–6.450

Baca Juga: IHSG Dibayangi Koreksi, Demo dan Sentimen Global Jadi Perhatian Investor

Baca Juga: Jelang Demo 27 Agustus, IHSG Berpotensi Tertekan Aksi Profit Taking

Rupiah dan Komoditas Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dengan memanfaatkan teknologi pengawasan. Kebijakan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang turut dicermati pelaku pasar.

Sementara itu, pergerakan harga komoditas global menunjukkan hasil beragam. Harga minyak mentah Brent ditutup melemah tipis di level US$87 per barel.

Imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun (U.S. 10-year Treasury yield) juga meningkat 1 basis poin menjadi 4,649%. Kenaikan yield ini dapat menjadi perhatian investor karena berpengaruh terhadap daya tarik aset berisiko, termasuk saham.

Tekanan juga datang dari harga emas. Emas spot ditutup turun 1,4% ke level US$4.592 per troy ounce pada perdagangan 26 Agustus 2026.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan ruang pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini masih terbatas, dengan kisaran 6.350-6.450.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan