Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bitcoin Tembus US$80.000, Investor Diingatkan Jangan Asal Kejar Harga

Bitcoin Tembus US$80.000, Investor Diingatkan Jangan Asal Kejar Harga Kredit Foto: Unsplash
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bitcoin Tembus US$80.000, Investor Diingatkan Tak Asal Kejar Harga

JAKARTA — Bitcoin (BTC) kembali mencatat penguatan signifikan dengan menembus level US$80.000 pada 25 Agustus 2026, setelah sebelumnya bergerak di kisaran US$64.000 pada 17 Agustus 2026. Kenaikan tersebut didorong perubahan sentimen makro global dan kembali derasnya arus dana ke exchange traded fund (ETF) spot Bitcoin di Amerika Serikat.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai penguatan Bitcoin kali ini menunjukkan perubahan sentimen pasar yang tercermin dari sejumlah indikator, meski laju kenaikan yang cepat tetap membawa risiko volatilitas.

“Momentum Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Penguatan harga berjalan bersamaan dengan meningkatnya permintaan melalui ETF spot Bitcoin dan membaiknya kondisi pasar. Namun, kenaikan yang berlangsung cepat tetap perlu diimbangi dengan disiplin dalam mengelola risiko, terutama bagi investor yang baru kembali melihat peluang di pasar,” ujar Aloysia.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat net inflow positif sepanjang periode 17-25 Agustus 2026. Total arus dana yang masuk mencapai sekitar US$2,57 miliar.

Pada periode yang sama, CryptoQuant mencatat Bull Score Bitcoin meningkat dari 30 menjadi 80 dalam sepekan. Kenaikan indikator tersebut mencerminkan meningkatnya optimisme dan selera risiko pelaku pasar.

Bitcoin yang sempat bergerak relatif terbatas pada awal Agustus mulai mengalami akselerasi pada 19 Agustus. Aset kripto tersebut kemudian naik lebih dari 20% dalam tiga hari, dengan penguatan turut diperkuat aksi short squeeze, hingga akhirnya menembus US$80.000 pada 25 Agustus.

Dari sisi makroekonomi, salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan Treasury buyback atau pembelian kembali sebagian surat utang pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Treasury menjaga likuiditas dan mendukung kelancaran perdagangan.

Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan itu sempat menekan yield dan kembali mendorong minat terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.

“Arus dana ETF menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap Bitcoin kembali menguat. Ketika peningkatan permintaan tersebut berjalan bersamaan dengan kenaikan harga, momentum pasar menjadi lebih kuat. Namun, pergerakannya tetap perlu dibaca bersama kondisi makro, likuiditas, aktivitas pasar, dan sentimen investor secara keseluruhan,” jelas Aloysia.

Menurut Aloysia, sentimen pasar yang telah berada di area optimistis dapat membuka peluang sekaligus meningkatkan risiko volatilitas. Kondisi tersebut berpotensi menjadi semakin berisiko apabila investor dan trader terlalu agresif mengejar kenaikan harga.

Baca Juga: BTC Naik 13% Sepekan, Bernstein Ramal Tembus Rp5 Miliar pada 2029

Baca Juga: Bitcoin Tetap Ngegas, Naik 21,45% Sepekan ke Rp1,36 Miliar

Karena itu, strategi investasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing. Trader jangka pendek dapat mengevaluasi ukuran posisi dan batas risiko, sedangkan investor jangka panjang dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap agar keputusan tidak semata-mata didorong oleh kenaikan harga.

“Momentum bullish tidak selalu bergerak dalam satu arah. Fokus investor sebaiknya bukan mengejar harga atau menebak titik tertinggi, tetapi memahami faktor yang menggerakkan pasar dan memiliki rencana menghadapi berbagai skenario,” tambah Aloysia.

INDODAX juga mendorong masyarakat melakukan Do Your Own Research (DYOR), memahami karakteristik dan volatilitas aset kripto, serta menerapkan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan transaksi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri