Soal Prabowo Akan Turun Lebih Awal, Ketum Projo Budi Arie: Biarkan Sejarah Menemukan Takdirnya
Kredit Foto: Istimewa
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi tidak menarik kembali analisisnya mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik sebelum waktunya untuk Presiden Prabowo Subianto. Namun, ketika ditanya apakah prediksinya tersebut akan terbukti atau justru meleset, iamemilih menyerahkan jawabannya kepada waktu.
Budi Arie, alih-alih memberikan kepastian, menggunakan istilah “takdir” dan “sejarah” untuk menjelaskan bahwa analisis politik tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya sejak awal.
Baca Juga: Di Balik Diamnya Jokowi dalam Video Viral Ketum Projo Budi Arie, Ternyata Ini Alasannya!
“Nah, soal insting itu peleset atau enggak, ya sudahlah. Biarlah waktu menemukan takdirnya sendiri. Namanya juga analisis, ya kan? Ya biarlah sejarah menemukan takdirnya sendiri,” kata Budi Arie, dikutip Jumat (28/8/2026).
Sebelumnya, Budi Arie mengejutkan publik dengan analisisnya mengenai kemungkinan pemilu dipercepat sebelum waktunya memicu perdebatan. Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan ketika ada sosok dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.
Kehadiran Jokowi kemudian memunculkan tafsir bahwa analisis mantan menteri itu mungkin mencerminkan pandangan politik mantan presiden tersebut. Namun, Budi Arie menegaskan bahwa hal itu tidak benar.
Budi Arie memastikan pernyataan mengenai kemungkinan pemilu dipercepat merupakan pendapat pribadinya. Ia bahkan menyatakan siap bertanggung jawab atas pernyataan tersebut. Ia meminta publik tidak mengaitkan analisis tersebut dengan Jokowi maupun Projo.
“Jangan di-framing-framing Pak Jokowi mau ini, seperti ini,” kata Budi Arie.
Adapun Budi Arie juga mengaitkan analisanya tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia membandingkannya dengan situasi menjelang perubahan besar pada akhir Orde Baru.
Baca Juga: Tanggapi Soal Demo 27 Agustus, Habib Rizieq: Rakyat Sebaiknya Jaga Wilayah Masing-masing
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi," tegasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: