Welfizon Yuza Bongkar Strategi Transjakarta: Dari Operator Bus Menuju Platform Mobilitas
Kredit Foto: Transjakarta
Elektrifikasi: Bukan Sekadar ESG, tetapi Strategi Mobilitas
Agenda keberlanjutan menjadi bagian lain dari strategi Transjakarta. Welfizon mengungkapkan hasil perhitungan dan riset bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia pada 2024 menunjukkan bahwa perpindahan satu perjalanan dari kendaraan pribadi ke bus Transjakarta dapat menurunkan emisi per perjalanan per orang hingga 94 persen, bahkan ketika armada yang digunakan masih menggunakan mesin pembakaran internal.
Logikanya sederhana: kendaraan pribadi umumnya membawa satu hingga dua orang, sedangkan satu bus dapat mengangkut puluhan orang dengan satu sumber emisi.
"Artinya, perubahan atau shifting yang selalu didorong, orang pindah dari kendaraan pribadi ke public transport, itu menurunkan emisinya signifikan sekali," kata Welfizon.
Elektrifikasi kemudian menjadi langkah lanjutan.
Saat ini sekitar 500 dari 2.000 bus besar Transjakarta telah menggunakan bus listrik. Artinya, sekitar seperempat armada bus besar telah memasuki tahap elektrifikasi.
Target 2030 jauh lebih agresif: seluruh armada ditargetkan menggunakan kendaraan listrik.
Tantangannya kini adalah bus medium dan bus kecil yang memiliki karakteristik operasional berbeda dan masih membutuhkan sejumlah penyesuaian.
Bagi Transjakarta, agenda hijau sekaligus menjadi bagian dari transformasi perilaku masyarakat. Semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, semakin besar pula dampak sistem transportasi terhadap pengurangan emisi perkotaan.
Aset Digital Mulai Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Salah satu bagian paling menarik dari strategi Transjakarta adalah pembangunan teknologi secara mandiri.
Welfizon mengungkapkan perusahaan membutuhkan backbone system untuk mengelola operasional armada yang sangat kompleks. Transjakarta kemudian mempelajari berbagai sistem yang digunakan operator transportasi di sejumlah kota maju, termasuk Singapura, London, dan Hong Kong.
Namun, hasil analisis justru membawa perusahaan pada keputusan untuk tidak sekadar membeli teknologi yang sudah tersedia.
"Kita harus bikin sendiri," ujarnya.
Alasannya adalah karakteristik transportasi Jakarta yang berbeda. Keberadaan Mikrotrans, keterbatasan sejumlah terminus, serta kompleksitas jaringan membuat sistem yang dikembangkan untuk kota lain belum tentu dapat langsung diterapkan di Jakarta.
Karena itu, Transjakarta menggabungkan dua kompetensi: keahlian transportasi dan teknologi.
Sistem tersebut dikembangkan secara in-house oleh lebih dari 80 engineer Transjakarta, dengan dukungan sejumlah ahli dari perguruan tinggi.
"Ini 100 persen in-house. Dibangun oleh anak-anak muda yang di IT," kata Welfizon.
Menurutnya, proses pengembangan dilakukan dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan dan terus dikembangkan.
Perusahaan juga tengah memproses paten atas teknologi tersebut.
Yang lebih penting, Welfizon tidak melihat sistem tersebut hanya sebagai alat internal. Ia melihat peluang komersialisasi dan replikasi sebagai aset bisnis baru.
"Yang mahal itu sebenarnya brain-nya," ujarnya.
Dengan algoritma dan pengalaman operasional yang telah teruji, sistem tersebut berpotensi menjadi competitive advantage sekaligus aset tidak berwujud Transjakarta.
Bahkan, perusahaan tengah mengeksplorasi penerapan fleet management system tersebut di luar sektor transportasi publik, termasuk sektor pertambangan.
Jika berhasil dikomersialisasikan, maka Transjakarta akan memiliki sumber pertumbuhan yang berbeda dari bisnis operasional transportasi konvensional.
Tiga Pilar Digitalisasi: Experience, Excellence, Governance
Welfizon menjelaskan transformasi digital Transjakarta dibangun di atas tiga sasaran utama.
"Objektif yang pertama itu adalah customer experience. Objektif yang kedua itu operational excellence. Dan yang ketiga governance," katanya.
Pada sisi pelanggan, Transjakarta mengembangkan konsep dynamic scheduling. Sebab, bus memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kereta api yang beroperasi pada jalur dan jadwal yang relatif lebih pasti.
"Bus itu keunggulannya adalah flexibility," ujarnya.
Karena itu, menurut Welfizon, pelanggan tidak selalu membutuhkan kepastian bahwa bus akan datang pada menit tertentu. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan bus diperkirakan tiba.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui Passenger Information System (PIS) di halte BRT serta aplikasi TJ: Transjakarta.
Aplikasi yang diluncurkan pada September 2024 tersebut, menurut Welfizon, telah diunduh sekitar 3,4 juta kali.
Salah satu fitur utamanya adalah trip planning. Pengguna dapat memasukkan titik keberangkatan dan tujuan, kemudian memperoleh rekomendasi rute.
Menariknya, rekomendasi tersebut tidak hanya berdasarkan kecepatan.
Transjakarta mengembangkan empat perspektif perjalanan: rute tercepat, rute termurah, rute dengan aktivitas fisik atau pembakaran kalori lebih banyak, serta rute dengan emisi paling rendah.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan berusaha mengintegrasikan transportasi dengan lifestyle.
"Kita harus capture lifestyle-nya," kata Welfizon.
Di sisi operasional, sistem digital digunakan untuk mengontrol kecepatan armada hingga kepadatan halte. Sistem tersebut dikembangkan untuk menciptakan synchronized integration atau Sintra.
Sementara dari sisi tata kelola, penggunaan sistem dan data diharapkan mengurangi ruang abu-abu dalam proses pengambilan keputusan.
"Kalau kita bicara sistem kan semuanya binar, yes or no. Jadi abu-abunya hilang," jelasnya.
Dari Public Service Menjadi Intellectual Property
Bagi investor dan pelaku bisnis, transformasi paling strategis justru berada pada perubahan bentuk aset Transjakarta.
Selama ini, aset perusahaan transportasi lazim diasosiasikan dengan armada, depo, halte, lahan, dan infrastruktur. Namun, Transjakarta mulai membangun jenis aset lain: algoritma, sistem digital, data, pengalaman operasional, dan kompetensi sumber daya manusia.
Welfizon melihat aset tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas.
"Ini tentu menjadi competitive advantage kita, salah satu aset tak berwujud, yang bisa kita kembangkan ke tempat-tempat lain," ujarnya.
Dengan demikian, pengalaman 22 tahun Transjakarta berpotensi menjadi sebuah intellectual capital yang dapat direplikasi.
Perusahaan bahkan melihat peluang membantu pemerintah daerah lain membangun sistem transportasi publik tanpa harus memulai dari nol.
Ekspansi ke Luar Jakarta
Ambisi tersebut mulai memasuki tahap pembicaraan dengan pemerintah daerah.
Welfizon mengungkapkan saat ini terdapat beberapa daerah yang sedang berdiskusi dengan Transjakarta, termasuk daerah di Indonesia Timur dan wilayah Sumatera.
Ia melihat peluang tersebut sebagai potensi game changer.
Logikanya adalah mempercepat pembangunan transportasi publik di kota lain dengan memanfaatkan pengalaman, teknologi, dan sistem yang sudah dikembangkan Jakarta.
"Kalau Jakarta 22 tahun untuk jadi kayak sekarang, mestinya kota lain bisa lebih cepat, karena tinggal belajar atau mengambil success story dari Jakarta," kata Welfizon.
Model tersebut membuka kemungkinan bagi Transjakarta untuk tidak hanya menjadi operator di Jakarta, tetapi juga menjadi penyedia pengetahuan, teknologi, sistem, dan know-how transportasi bagi daerah lain.
Dengan kata lain, perusahaan mulai membangun kemungkinan scalability di luar wilayah operasional utamanya.
Membangun Industri, Bukan Sekadar Operator
Strategi ekspansi tersebut tidak berhenti pada teknologi. Transjakarta juga menyiapkan infrastruktur pengetahuan melalui Transjakarta Academy.
Welfizon melihat terdapat kesenjangan dalam pendidikan profesi transportasi publik, khususnya bagi pramudi.
Profesi pilot memiliki sekolah. Masinis memiliki pendidikan khusus. Namun, profesi pengemudi bus selama ini belum memiliki ekosistem pendidikan profesi yang setara.
Padahal, tuntutan keselamatan tetap tinggi.
"Pada saat terjadi eksiden, tuntutan terhadap keselamatannya sama," ujarnya.
Karena itu, Transjakarta membangun Transjakarta Academy sebagai bagian dari upaya profesionalisasi profesi pramudi.
Perusahaan telah memiliki Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan sedang memproses Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Bersama Kementerian Ketenagakerjaan, Transjakarta juga telah mendorong penyusunan standar kompetensi khusus untuk profesi transportasi publik seperti city bus.
Ke depan, akademi tersebut berpotensi menjadi sumber daya strategis bukan hanya untuk kebutuhan internal, tetapi juga untuk mendukung pembangunan sistem transportasi di kota-kota lain.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Istihanah
Tag Terkait: