Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BEC Groundbreaking Proyek Metanol Batu Bara Rp41,5 T di Kutim

BEC Groundbreaking Proyek Metanol Batu Bara Rp41,5 T di Kutim Kredit Foto: Kementerian ESDM
Warta Ekonomi, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur -

PT Bumi Etam Chemical (BEC) memulai pembangunan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur, setelah proyek tersebut sempat terhenti pasca-batalnya kerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products.

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berlokasi di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, itu ditargetkan memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Produksi tersebut diproyeksikan menekan ketergantungan impor metanol Indonesia yang pada 2025 masih mencapai 1,3 juta ton dengan nilai sekitar Rp7,1 triliun.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengatakan proyek tersebut menjadi bagian dari agenda hilirisasi batu bara berkalori rendah untuk memperkuat industri domestik dan ketahanan energi.

“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” kata Yuliot saat groundbreaking PSN Gasifikasi Batu Bara di Bengalon, Kutai Timur, Senin (31/8).

Proyek itu dikembangkan BEC, perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Kedua perusahaan masing-masing menggenggam 50% saham BEC.

BEC akan membangun fasilitas tersebut di lahan sekitar 93 hektare, dengan estimasi investasi lebih dari US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,52 triliun. Proyek dirancang mengolah sekitar 7,70 juta-7,78 juta ton batu bara berkalori rendah sekitar 3.300-3.400 kcal/kg GAR per tahun.

Batu bara itu akan digasifikasi menjadi metanol berstandar International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade. Selain metanol, fasilitas tersebut direncanakan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat. Kapasitas produksi tahap awal sebesar 2 juta ton per tahun, lalu berpeluang ditingkatkan hingga 3,6 juta ton per tahun.

Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan perusahaan telah masuk ke tahap rekayasa proyek. BEC telah menandatangani Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) pada 29 Juli 2026.

“Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target commissioning tahun 2029 sesuai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional,” kata Rio.

Target tersebut menandai kelanjutan proyek gasifikasi batu bara BEC yang sebelumnya tersendat. Pekerjaan lapangan diketahui telah dimulai sejak 2020, tetapi kemudian berhenti setelah rencana kerja sama dengan Air Products tidak berlanjut. Pematangan lahan kembali dilanjutkan pada 2025 dan telah mencapai sekitar 70% pada Juli lalu.

Yuliot mengatakan proyek BEC diharapkan dapat menjadi contoh hilirisasi bagi produsen batu bara lain, terutama dalam memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang banyak tersedia di Kalimantan dan Sumatera.

“Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam program Asta Cita,” ujarnya.

Metanol dari proyek tersebut akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, terutama sektor petrokimia dan formaldehida. Produk itu juga disiapkan untuk mendukung pengembangan fatty acid methyl ester (FAME) dan implementasi mandatori biodiesel B50.

Namun, proyek gasifikasi batu bara menghadapi tantangan besar dari sisi keekonomian. Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebelumnya mengakui bahwa nilai tambah produk turunan batu bara cenderung lebih kecil dibandingkan hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit. Proyek BEC sendiri membutuhkan investasi US$2,3 miliar untuk mengolah sekitar 7,7 juta ton batu bara per tahun menjadi 2 juta ton metanol.

Baca Juga: Pertamina NRE Kembangkan Bio-Metanol dari Limbah Sawit

Baca Juga: Ketua IMEF Minta Pembentukan BLU Batu Bara Ditunda, Ini Alasannya

Meski demikian, BEC menyatakan telah mengantongi komitmen penyerapan metanol yang akan diproduksi. Hal ini penting karena keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas gasifikasi, tetapi juga kepastian pasar bagi produk metanol domestik.

Untuk mendukung operasi, proyek akan dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, serta terminal pelabuhan. Teknologi proyek juga dirancang memiliki pengendalian emisi dan terintegrasi dengan carbon capture and storage (CCS).

Jika jadwal berjalan sesuai rencana, BEC menargetkan fasilitas mulai memasuki tahap commissioning pada 2029 dan memulai produksi komersial pada 2030.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra