Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Banyak Kerusakan, AS Tarik Kapal Induk USS Gerald Ford dari Pasifik

Banyak Kerusakan, AS Tarik Kapal Induk USS Gerald Ford dari Pasifik Kredit Foto: Seaforces
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kebutuhan memperkuat operasi militer di Timur Tengah membuat Amerika Serikat harus melakukan redistribusi kapal induk dari kawasan lain. Salah satu dampaknya terlihat di Indo-Pasifik setelah USS George Washington yang sebelumnya berbasis di Jepang diarahkan menuju Timur Tengah.

USS George Washington dikirim untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Pergerakan tersebut membuat kawasan Pasifik Barat untuk sementara kehilangan salah satu simbol utama kehadiran militer Amerika Serikat.

Penarikan tersebut menggambarkan dilema yang dihadapi Pentagon. Kapal induk memiliki kemampuan proyeksi kekuatan yang besar, tetapi jumlahnya terbatas. Setiap kapal juga membutuhkan siklus pemeliharaan yang panjang setelah menjalani operasi dalam waktu lama.

Tekanan terhadap kesiapan armada semakin terlihat dari kondisi USS Gerald R. Ford, kapal induk terbaru dalam armada Amerika Serikat.

Kapal tersebut kembali pada Mei setelah menjalani pelayaran sekitar 11 bulan. Setelah menjalani periode operasi yang panjang, kapal dilaporkan mengalami keausan pada sejumlah komponen utama dan harus masuk ke dok untuk menjalani perawatan.

Proses perawatan USS Gerald R. Ford diperkirakan dapat berlangsung setidaknya satu tahun.

Perawatan kapal induk modern tidak hanya berkaitan dengan satu atau dua komponen. Kapal tersebut merupakan sistem militer yang kompleks sehingga berbagai bagian harus diperiksa dan dipelihara, termasuk sistem propulsi, kelistrikan, persenjataan, sensor, serta fasilitas pendukung operasi udara.

Persoalan teknis juga dilaporkan terjadi selama aktivitas operasional USS Gerald R. Ford. Pada Maret, kebakaran besar terjadi di ruang cuci kapal. Upaya pemadaman berlangsung lebih dari 30 jam dan menyebabkan area tempat tinggal awak mengalami kerusakan berat.

Sebulan sebelumnya, sistem pengelolaan limbah kapal juga mengalami masalah.

Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa kerusakan pada sistem pendukung dapat memengaruhi kondisi operasional kapal perang berukuran besar. Selain membutuhkan perbaikan, masalah teknis juga dapat berdampak pada kesiapan kapal menjalankan misi.

Di tengah operasi militer di Timur Tengah, kondisi tersebut membuat Angkatan Laut AS harus mengatur ulang penggunaan kapal induk yang tersedia.

Baca Juga: Trump Ingin Hentikan Serangan Militer, Ganti Serang Iran Lewat Ekonomi

Penarikan USS George Washington dari Pasifik ke Timur Tengah sekaligus memperlihatkan konsekuensi dari terbatasnya jumlah kapal induk. Ketika satu kapal ditarik untuk mendukung operasi di satu kawasan, kehadiran Amerika Serikat di kawasan lain dapat ikut terdampak.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Washington untuk mempertahankan kehadiran militernya di berbagai wilayah sekaligus. Kapal induk yang tersedia harus dibagi antara kebutuhan operasi, pemeliharaan, dan kesiapan menghadapi misi berikutnya.

Dengan demikian, persoalan utama bukan hanya jumlah kapal induk yang dimiliki Amerika Serikat, tetapi juga berapa banyak yang benar-benar berada dalam kondisi siap dikerahkan ketika kebutuhan militer meningkat di berbagai kawasan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: