Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hadapi Transformasi, Tata Kelola dan Manajemen Risiko jadi Fondasi Pertumbuhan Industri Reasuransi

Hadapi Transformasi, Tata Kelola dan Manajemen Risiko jadi Fondasi Pertumbuhan Industri Reasuransi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sebagai bagian dari strategi menghadapi meningkatnya kompleksitas risiko industri reasuransi.

Penguatan tata kelola dilakukan di tengah dinamika risiko global, volatilitas ekonomi, perkembangan teknologi digital, serta perubahan regulasi yang menuntut perusahaan reasuransi semakin adaptif.

Bagi Indonesia Re, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas dan portofolio bisnis, tetapi juga kualitas tata kelola, manajemen risiko, transparansi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri.

Direktur Utama Indonesia Re Robbi Yanuar Walid mengatakan tata kelola perusahaan yang baik menjadi elemen fundamental dalam membangun perusahaan reasuransi.

Menurutnya, kepercayaan merupakan modal utama untuk menciptakan pertumbuhan bisnis berkelanjutan bersama seluruh mitra industri asuransi.

“Kami terus memperkuat tata kelola, kualitas layanan, dan pengelolaan risiko agar Indonesia Re dapat menjadi mitra strategis yang mampu mendukung pertumbuhan industri secara berkelanjutan,” ujar Robbi.

Sepanjang 2025 hingga saat ini, Indonesia Re menjalankan berbagai program untuk memperkuat budaya kepatuhan dan integritas di seluruh lini organisasi. Program tersebut mencakup forum diskusi kepatuhan secara berkala, compliance self-assessment, serta pengukuran tingkat kematangan manajemen risiko atau Risk Maturity Index (RMI).

Sosialisasi kepatuhan juga mencakup tata cara pengisian dan penyampaian Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), penerapan Perlindungan Data Pribadi (PDP), pedoman pengendalian gratifikasi, kampanye Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA), serta edukasi antisuap melalui berbagai media internal perusahaan.

Untuk mengukur kematangan manajemen risiko, Indonesia Re menggunakan RMI yang mengacu pada Petunjuk Teknis KBUMN Tahun 2023 tentang Penilaian Indeks Kematangan Risiko di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara.

Pengukuran RMI periode 2024 yang dilakukan pada Juli–September 2025 menghasilkan skor 3,10 atau berada dalam kategori “Fase Praktik yang Baik”. Hasil tersebut mencerminkan penerapan manajemen risiko di berbagai lini perusahaan sesuai kerangka kerja yang telah ditetapkan.

Konsistensi penguatan tata kelola tersebut juga tercermin dari hasil penilaian GCG 2025. Indonesia Re memperoleh skor 4,84 dari skala 5 atau setara 96,80 persen dengan klasifikasi “Sangat Baik” berdasarkan penilaian Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penerapan GCG dilakukan berdasarkan delapan prinsip yang mencakup efektivitas organ perusahaan, proses tata kelola, pengelolaan risiko, serta hubungan yang transparan dengan para pemangku kepentingan.

Implementasi tata kelola juga dievaluasi secara berkala melalui pengawasan internal dan pemantauan sejumlah pihak, termasuk OJK, Badan Pengaturan (BP) BUMN, PT Danantara Asset Management, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Indonesia Re menilai tata kelola yang konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pemegang saham, mitra bisnis, regulator, serta perusahaan asuransi sebagai pengguna jasa reasuransi.

Penguatan tersebut turut mendapatkan pengakuan melalui sejumlah penghargaan nasional sepanjang periode transformasi 2024-2026. Di antaranya Trusted Companies dalam ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2024-2025, Top GRC Awards 2025, The Most Committed GRC Leader 2025, serta Indonesia's Most Respected In-House Counsel 2025.

Dari sisi keterbukaan informasi, Indonesia Re juga memperoleh predikat BUMN Informatif selama dua tahun berturut-turut dalam Indeks Keterbukaan Informasi Publik dari Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.

Skor keterbukaan informasi perusahaan meningkat dari 97,25 pada 2024 menjadi 98,29 pada 2025. Pada 2026, Indonesia Re kembali memperoleh penghargaan tertinggi dalam Indonesia Regulatory Compliance Awards (IRCA) 2026.

Robbi mengatakan penguatan tata kelola akan terus diarahkan untuk mendukung keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan industri.

“Lewat transformasi tata kelola yang terus berjalan, termasuk penguatan manajemen risiko, digitalisasi, kepatuhan, serta pengembangan sumber daya manusia, kami ingin memastikan Indonesia Re jadi perusahaan yang sustainable bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Robbi.

Salah satu transformasi yang dilakukan Indonesia Re adalah penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 yang mengadopsi International Financial Reporting Standard (IFRS) 17. Penerapan standar tersebut turut memperkuat pengelolaan risiko dan pengambilan keputusan bisnis berbasis data.

Baca Juga: Kartu Kredit Indonesia Resmi Diluncurkan! Begini Cara Pakainya

Adaptasi tata kelola juga dilakukan dalam proses transisi kepemilikan Indonesia Re ke dalam ekosistem Danantara. Perusahaan menyesuaikan mekanisme pengawasan, pelaporan, dan struktur koordinasi internal agar selaras dengan standar tata kelola holding, dengan tetap memenuhi regulasi yang berlaku.

Ke depan, Indonesia Re akan terus memperkuat tata kelola adaptif melalui peningkatan kapasitas pengawasan risiko berbasis teknologi, percepatan transformasi digital, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia Re untuk memperkuat posisi sebagai mitra strategis yang tepercaya bagi industri asuransi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri reasuransi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: