Di Malaysia, Jokowi Beri Pesan Jadi Pemimpin Harus Mau Mendengarkan, Jangan Cuma Andalkan Kekuatan Politik
Kredit Foto: Istimewa
Mantan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menyerukan perubahan besar di tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tetap relevan menghadapi konflik dan tantangan global yang semakin kompleks.
Gagasan tersebut disampaikan Jokowi saat menjadi keynote speaker dalam Penang Peace Dialogue 2026 di George Town, Penang, Malaysia, Minggu (6/9/2026).
Dalam forum tersebut, Jokowi memperkenalkan gagasan “PBB 2.0”. Menurut dia, dunia membutuhkan institusi global dengan sistem, proses, dan strategi yang mampu merespons dinamika konflik masa kini.
“PBB mesti berubah dan mendefinisikan kembali sistem, proses dan strateginya demi membangun dunia yang lebih baik serta tetap relevan,” kata Jokowi, dikutip dari Harian Metro Malaysia, Minggu (6/9/2026).
Jokowi menilai konflik yang terjadi saat ini semakin rumit karena saling berkaitan dan dampaknya dapat melampaui batas negara.
Kondisi tersebut, menurut dia, membutuhkan institusi global yang lebih kuat, terutama dalam menjalankan fungsi mediasi dan diplomasi.
“Kita kini mesti melampaui versi lama PBB dan membangun versi baharu PBB 2.0,” ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, perubahan tersebut diperlukan agar PBB mampu menghadapi persoalan dunia yang tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan masing-masing negara.
Jokowi menekankan pentingnya menempatkan perdamaian sebagai fondasi kemakmuran jangka panjang. Ia menilai negara-negara di dunia perlu lebih mengutamakan kerja sama dibandingkan persaingan yang dapat memicu perpecahan.
Dunia, kata Jokowi, membutuhkan mekanisme diplomasi dan mediasi yang lebih efektif untuk mencegah konflik berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Selain reformasi institusi global, Jokowi menyoroti pentingnya karakter seorang pemimpin dalam menghadapi perubahan dunia.
Menurut dia, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan ekonomi, politik, maupun teknologi. Pemimpin juga membutuhkan integritas, kesabaran, keberanian, dan empati terhadap masyarakat.
Seorang pemimpin, kata Jokowi, harus memiliki keberanian untuk beradaptasi dengan perubahan, kerendahan hati untuk mendengarkan, serta komitmen untuk tetap terhubung dengan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi bagian dari pandangannya mengenai pentingnya kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan sekaligus mendorong kerja sama di tengah situasi global yang semakin kompleks.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: