- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
TOWR Bidik FWA dan Spektrum Baru, Bisnis Menara hingga Fiber Siap Digenjot
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melihat peluang pertumbuhan dari ekspansi layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan pemanfaatan spektrum baru oleh operator telekomunikasi di Indonesia. Perkembangan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap menara telekomunikasi dan jaringan fiber milik perseroan.
Peluang tersebut sejalan dengan kebutuhan operator untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas jangkauan jaringan. TOWR menilai kondisi keuangan yang solid, kemampuan pendanaan, profitabilitas, serta arus kas yang terjaga menjadi modal penting untuk menangkap pertumbuhan permintaan infrastruktur telekomunikasi.
Perseroan juga ditopang pengalaman dalam membangun dan mengembangkan jaringan telekomunikasi berskala besar di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, hubungan jangka panjang dengan operator menjadi salah satu fondasi yang mendukung keberlanjutan bisnis TOWR.
Dalam Public Expose Live 2026, TOWR memaparkan perkembangan kinerja hingga akhir Juni 2026. Perseroan tercatat memiliki sekitar 36.892 menara dan jaringan kabel optik sepanjang kurang lebih 182.559 kilometer.
Portofolio tersebut diperkuat berbagai infrastruktur pendukung, termasuk VSAT dan jaringan kabel bawah laut. Infrastruktur yang terintegrasi ini menjadi salah satu keunggulan TOWR dalam menyediakan kebutuhan konektivitas bagi operator telekomunikasi.
Pada bisnis menara, jumlah tenant yang dilayani mencapai 61.038 dengan tenancy ratio sebesar 1,65 kali. Sementara di bisnis fiber, penetrasi Fiber-to-the-Home (FTTH) telah mencapai sekitar 1,86 juta homepass.
Pendapatan dan Laba Naik
Pertumbuhan aset dan bisnis tersebut turut tercermin dalam kinerja keuangan perseroan. Pada semester I 2026, TOWR membukukan pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp7,2 triliun, meningkat 12,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA tercatat Rp5,58 triliun atau tumbuh 4,8% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih setelah memperhitungkan kepentingan minoritas mencapai Rp1,86 triliun, naik 12,4%.
TOWR juga memiliki visibilitas pendapatan jangka panjang melalui pendapatan kontraktual lebih dari Rp100 triliun hingga 2045. Nilai tersebut setara sekitar sembilan kali pendapatan yang dibukukan perseroan sepanjang 2025.
Kontrak sewa jangka panjang yang bersifat non-cancellable memberikan dukungan terhadap keberlanjutan arus kas perseroan. Basis pelanggan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia turut memperkuat posisi bisnis TOWR.
Dari sisi keuangan, TOWR menjaga rasio net debt terhadap EBITDA di bawah 4 kali. Perseroan juga mampu mempertahankan biaya bunga di kisaran 5,55% meskipun tingkat suku bunga pasar mengalami kenaikan sepanjang 2026.
Baca Juga: Grup Djarum Bergerak Senyap Kuasai 10,86% Saham Emiten Bakrie, Ada Aksi Apa?
Baca Juga: Terungkap! Asal-usul Grup Djarum Kuasai 10,86% Saham Emiten Bakrie
Baca Juga: AKRA Siapkan Capex Rp1 Triliun, JIIPE Jadi Salah Satu Fokus Ekspansi
CEO Sarana Menara Nusantara, Aming Santoso mengatakan strategi perseroan ke depan akan diarahkan untuk mengoptimalkan aset yang telah dimiliki sembari tetap menjaga disiplin dalam penggunaan modal.
"Kinerja kami pada Semester I 2026 menunjukkan kekuatan bisnis model TOWR yang didukung oleh aset yang terintegrasi dan saling bersinergi," ujar Aming.
Menurut Aming, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang dibarengi dengan penguatan neraca menjadi bagian dari upaya TOWR menciptakan nilai secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi pijakan bagi perseroan untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur telekomunikasi ke depan, terutama seiring pengembangan FWA dan penggunaan spektrum baru oleh operator.
Dengan dukungan portofolio menara dan fiber, kontrak jangka panjang, serta struktur keuangan yang tetap terjaga, TOWR memiliki ruang untuk melanjutkan ekspansi sekaligus meningkatkan pemanfaatan aset infrastruktur digital yang telah dimiliki.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan