- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bauran EBT Indonesia Terkoreksi, Perempuan Didorong Perkuat Transisi Energi
Kredit Foto: Istimewa
Bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia terkoreksi menjadi 17,3% pada semester I 2026 setelah sempat mencapai 18,3% pada triwulan I. Pemerintah menilai percepatan pengembangan energi bersih membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk peningkatan peran perempuan di sektor energi.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, mengatakan capaian pengembangan EBT dan konservasi energi masih mengalami fluktuasi.
“Hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi grafiknya naik turun. Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18.3%, sekarang terkoreksi sedikit”, paparnya dalam sambutan acara Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026 di Jiexpo Kemayoran Jakarta dikutip Selasa (3/8/2026).
Koreksi tersebut membuat capaian bauran EBT pada semester I 2026 berada di bawah posisi 18,3% yang tercatat pada kuartal I. Data terbaru itu juga menunjukkan tantangan pemerintah untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam sistem energi nasional.
Eniya mengatakan percepatan transisi energi tidak hanya membutuhkan teknologi, investasi, dan kebijakan, tetapi juga sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam pengembangan energi bersih, termasuk perempuan.
Dalam kesempatan tersebut, Eniya juga mengapresiasi keterlibatan individu, korporasi, dan perguruan tinggi dalam pengembangan EBT. Pemerintah, kata dia, juga mendorong kampus agar dapat menjadi pusat keunggulan pengembangan teknologi EBT sesuai dengan potensi energi di wilayah masing-masing.
“Di mana ada universitas atau perguruan tinggi, kita overlay dengan sebaran EBT, sehingga di titik mana nanti universitas mana harus jadi center of excellence dari PLTS misalnya” tambah Eniya.
Dorongan peningkatan peran perempuan dalam transisi energi turut ditunjukkan melalui pemberian penghargaan kategori Women in Clean Energy dalam Anugerah Energi Baru Terbarukan (AEBT) 2026.
Penghargaan tersebut diberikan kepada perempuan yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan energi bersih, inovasi, kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, dan percepatan transisi energi.
Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) untuk subkategori Energy Leader. Mada menilai keterlibatan perempuan penting untuk memperluas basis sumber daya manusia di sektor energi bersih.
“Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi.” ujar Mada.
Selain Mada, Rita Kefi dari Yayasan Humanis menerima penghargaan subkategori Changemaker. Rita mengatakan tantangan sektor energi bukan hanya terkait pengembangan teknologi, tetapi juga meningkatkan partisipasi perempuan yang selama ini masih rendah.
“Kalau berbicara tentang energi, ini tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki,” kata Rita Kefi.
Rita dan organisasinya kemudian melakukan literasi dan pelatihan kepada perempuan di Sumba, termasuk melalui metode menggambar. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan agar dapat terlibat dalam ruang publik dan menyampaikan kebutuhan energi di tingkat desa hingga provinsi.
“Di pelatihan-pelatihan ini, kemudian kita melatih kepercayaan diri perempuan dari untuk mereka bisa terlibat di ruang-ruang publik misalnya mulai terlibat di musyawarah perencanaan desa, kecamatan dan kabupaten dan mereka juga membuat semacam rencana advokasi. Advokasi untuk sektor energi sesuai dengan kebutuhan mereka di tingkat desa, kabupaten dan provinsi, kurang lebih seperti ini,” jelas Rita Kefi.
Baca Juga: Bauran EBT Indonesia Turun Jadi 17,3% di Semester I 2026, ESDM Bongkar Penyebabnya
Baca Juga: Bauran EBT Baru 17,3%, ESDM Kejar Target 30% pada 2034
Sementara itu, Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung menerima penghargaan subkategori Innovator atas kiprahnya dalam pengembangan inovasi energi bersih.
Peran pendidikan vokasi juga dinilai penting dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan sektor energi yang terus berkembang.
Project Manager Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) dari Yayasan Indonesia Cerah, Caecilia Galih, mengatakan pengakuan terhadap perempuan di sektor energi diperlukan untuk memperluas ruang kontribusi dan kepemimpinan.
“Pengakuan ini penting untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan di sektor energi. Kami berharap semakin banyak perempuan yang mendapatkan ruang untuk berkontribusi, memimpin, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” tutup Caecilia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: