Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pendangkalan Sungai Hambat B50, Pertamina Soroti Risiko Pasokan di 17 Terminal BBM

Pendangkalan Sungai Hambat B50, Pertamina Soroti Risiko Pasokan di 17 Terminal BBM Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pertamina Patra Niaga menyoroti risiko gangguan pasokan bahan bakar minyak, termasuk biodiesel B50 dan bahan baku fatty acid methyl ester (FAME), di 17 terminal BBM yang berada pada alur sungai rawan pendangkalan.

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan persoalan pendangkalan telah menghambat penyaluran B50 di Terminal BBM Sintang. Akses kapal menuju terminal tersebut terganggu karena penyusutan muka air sungai pada musim kemarau.

“Adapun satu terminal yang saat ini belum menyalurkan B50 adalah terminal Sintang. Ini karena ada faktor cuaca di mana kami masih ada kesulitan untuk masuk alur sungai di terminal Sintang karena faktor kendala musim kemarau sehingga beberapa sungai ini mengalami penyusutan,” kata Mars Ega dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026).

Menurut Mars Ega, hingga 5 September 2026, sebanyak 120 dari total 121 terminal BBM Pertamina Patra Niaga telah menyalurkan biosolar B50. Terminal Sintang menjadi satu-satunya terminal yang belum menjalankan penyaluran B50 akibat kendala akses sungai tersebut.

Persoalan itu, kata dia, tidak hanya terkait dengan penyaluran biodiesel B50. Pertamina Patra Niaga mencatat terdapat 17 terminal BBM yang mengandalkan jalur sungai dan rentan terhadap pendangkalan, sehingga berpotensi mengganggu distribusi BBM serta FAME ke wilayah pelayanan masing-masing.

“Yang pertama terdapat 17 terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berada di dalam alur sungai yang rawan pendangkalan,” ujar Mars Ega.

Ia mengatakan penanganan masalah tersebut memerlukan dukungan pemerintah dan tidak dapat ditangani sendiri oleh Pertamina Patra Niaga. Menurut dia, kepastian kedalaman dan kelancaran alur sungai penting untuk menjaga kapal pengangkut BBM maupun FAME dapat masuk ke terminal.

“Tentunya ini kita harus bersama-sama nanti memberikan solusi agar layanan kepada masyarakat, tentunya kami di Pertamina Patra Niaga tidak bisa sendirian untuk menjaga agar alur-alur sungai di terminal-terminal BBM ini dapat kita kendalikan atau setidaknya jangan sampai mengganggu pasokan BBM termasuk pasokan FAME di wilayah-wilayah tersebut,” kata Mars Ega.

Kendala distribusi tersebut muncul di tengah percepatan implementasi B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbahan baku nabati dengan 50 persen solar. Pemerintah mulai menerapkan mandatori B50 pada 1 Juli 2026.

Dalam forum yang sama, Mars Ega mengatakan Pertamina Patra Niaga telah menyalurkan B50 melalui 6.050 dari 6.412 SPBU penyalur biosolar. Dengan demikian, sekitar 94 persen SPBU penyalur biosolar telah mendistribusikan B50, sedangkan 362 SPBU masih menyalurkan B40.

Ia menyebut sebagian besar SPBU yang masih menjual B40 berada di wilayah terpencil karena menghadapi persoalan penanganan stok dan distribusi. “Ini karena faktor handling dan distribusi khususnya ini sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area,” ujarnya.

Baca Juga: Semester I-2026, Biaya Fuel PTBA Naik 16%, Dampak B50 Disebut Kecil

Baca Juga: B50 Tak Hapus Impor Solar, CN51 Masih Didatangkan 600 Ribu KL Tahun Ini

Di sisi lain, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah masih memberikan relaksasi bagi badan usaha untuk menghabiskan stok B40 hingga 30 September 2026.

“Proses B50 ini kami masih relaksasi, jadi memberikan ruang untuk menghabiskan stok B40 hingga 30 September 2026, jadi akhir bulan ini,” kata Eniya dalam rapat yang sama.

Pemerintah mencatat penyaluran biodiesel sepanjang tahun ini telah mencapai 10,69 juta kiloliter hingga 7 September 2026. Dari jumlah itu, penyaluran B40 pada Januari hingga sebelum penerapan B50 mencapai 7,27 juta kiloliter, sedangkan penyaluran B50 sejak Juli hingga 7 September mencapai sekitar 3,4 juta kiloliter.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra