Hadiri HUT ke-25 Demokrat, Prabowo Sentil Pihak yang Suka 'Bakar-Bakar' dan Caci Maki Saat Kalah
Kredit Foto: Bakom RI
Presiden Prabowo Subianto, membagikan kisahnya mengenai perjalanan panjang karir politiknya yang penuh liku.
Di hadapan ribuan kader Partai Demokrat, Prabowo blak-blakan menceritakan pengalamannya yang harus menelan pil pahit kegagalan hingga empat kali sebelum akhirnya berhasil menduduki kursi RI 1.
Curahan hati tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Prabowo secara terbuka mengakui bahwa keputusannya merintis jalan politik pasca-pensiun dari militer sangat terinspirasi oleh langkah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Menurutnya, SBY memberikan teladan cemerlang tentang bagaimana seorang purnawirawan jenderal berjuang di jalur demokrasi dengan mendirikan partai dan meminta mandat langsung dari rakyat.
"Kalau nyontek yang baik boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat minta mandat. Empat kali tidak dikasih mandat, tapi akhirnya dikasih juga," kelakar Prabowo yang disambut riuh tepuk tangan kader Demokrat.
Jalan panjang Prabowo dalam meminta mandat rakyat memang sarat ujian. Rekam jejaknya mencatat rentetan rintangan elektoral sebelum akhirnya berjaya memimpin negara:
- 2004: Gagal di tingkat awal Konvensi Calon Presiden dari Partai Golkar.
- 2009: Kalah saat maju sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.
- 2014: Kalah saat maju sebagai Calon Presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa.
- 2019: Kembali menelan kekalahan saat berpasangan dengan Sandiaga Uno.
- 2024: Berhasil memenangkan kontestasi Pemilihan Presiden bersama Gibran Rakabuming Raka.
Selain mengenang perjalanannya, Prabowo juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kedewasaan politik Partai Demokrat.
Ia menyoroti rekam jejak Demokrat yang pernah berada di puncak kekuasaan sebagai partai penguasa, namun juga pernah merasakan posisi sebagai oposisi di luar pemerintahan.
Satu hal yang diacungi jempol oleh Prabowo adalah sikap ksatria Demokrat yang tidak pernah menggunakan cara-cara destruktif ketika menelan kekalahan.
"Tapi waktu tidak berkuasa Partai Demokrat tidak caci maki. Partai Demokrat tidak bakar-bakar. Saya waktu empat kali tidak menang saya pun terima, ya sudah, kita maju lagi," tegas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Menutup pidatonya, Prabowo menitipkan pesan persatuan. Ia memaklumi bahwa ruang demokrasi di Indonesia akan selalu diwarnai oleh ragam corak politik dan persaingan sengit, termasuk lontaran kritik. Namun, keutuhan bangsa harus selalu menjadi muara dari setiap pertarungan politik.
"Yang mungkin tidak enak untuk disampaikan tapi tetap kita rukun, tetap bersahabat, tetap berkeluarga. Ini yang harus kita pegang," pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat