Indonesia Bidik Investasi AI dan Pasar UMKM di CAEXPO 2026
Kredit Foto: Ist
Indonesia memanfaatkan ajang China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 di Nanning, Guangxi, China, untuk memperluas pasar ekspor sekaligus mencari peluang kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI).
CAEXPO ke-23 berlangsung di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC) pada 17-21 September 2026. Paviliun Indonesia menempati area sekitar 2.000 meter persegi di Hall D5 dan mulai dibuka pada Kamis (17/9/2026).
Sejumlah pejabat dan perwakilan dunia usaha Indonesia menghadiri pembukaan paviliun tersebut, di antaranya Konsul Jenderal RI di Guangzhou Arianto Surojo, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Andi Anzhar Cakra Wijaya, dan Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno.
Dari pihak China hadir Wakil Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Daerah Otonomi Guangxi Zhuang Wu Jiashi dan Deputi Direktur Sekretariat CAEXPO Tang Hongping.
CAEXPO 2026 mengangkat tema "CAFTA 3.0 Opportunities, Better Life", seiring mulai diterapkannya Protokol Upgrade Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN atau CAFTA 3.0.
Wakil Perdana Menteri Pertama China Ding Xuexiang saat membuka CAEXPO menyampaikan bahwa China akan mendorong liberalisasi perdagangan jasa dan investasi lintas negara.
China juga memperkenalkan inisiatif AI Grand Marketplace sebagai bagian dari pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI di kawasan Asia Tenggara.
Konsul Jenderal RI di Guangzhou Arianto Surojo mengatakan CAEXPO menjadi salah satu forum untuk memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dan China.
Menurut dia, nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$154,58 miliar, dengan pertumbuhan sekitar 21 persen. Sementara pada Januari-Juni 2026, nilai perdagangan Indonesia-China telah mencapai US$100,04 miliar.
Arianto mengatakan Indonesia perlu meningkatkan ekspor produk bernilai tambah, bukan hanya mengandalkan komoditas bahan mentah. Produk hilirisasi seperti besi, baja, dan feronikel menjadi salah satu sektor yang didorong untuk memasuki pasar China.
Di CAEXPO 2026, Paviliun Indonesia menampilkan sejumlah produk dan sektor usaha, antara lain makanan olahan, sarang burung walet siap konsumsi, perhiasan, dan furnitur.
Kementerian Perdagangan menunjuk PT Pandu Arjuna (PAR) Indonesia sebagai mitra pelaksana Paviliun Indonesia dalam pameran tersebut.
Data Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai komitmen transaksi ekspor Indonesia di CAEXPO meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 nilainya tercatat US$54,2 juta, kemudian sekitar Rp106,45 miliar pada 2023 dan Rp479,4 miliar pada 2024.
Pada CAEXPO 2025, nilai komitmen transaksi ekspor Indonesia mencapai US$132,07 juta atau sekitar Rp2,17 triliun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Diplomasi Multilateral Andi Anzhar Cakra Wijaya mengatakan penerapan CAFTA 3.0 dapat membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia, termasuk UMKM dan industri manufaktur.
Menurut Andi, penurunan tarif dan pengurangan hambatan perdagangan menjadi salah satu aspek yang perlu dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia untuk memperluas pasar di kawasan ASEAN dan China.
Selain produk ekspor, pemerintah daerah juga membawa agenda investasi ke ajang tersebut. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, misalnya, mempromosikan kawasan Free Trade Zone (FTZ) Bintan-Karimun kepada calon investor asal China.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad turut melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah calon investor untuk membahas peluang investasi di kawasan tersebut.
Agenda teknologi menjadi salah satu bagian lain dari keikutsertaan Indonesia di CAEXPO 2026. Pameran tersebut memperkenalkan konsep AI Supermarket yang menampilkan berbagai perangkat dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga mengikuti agenda terkait pengembangan arsitektur AI. Salah satu pembahasannya berkaitan dengan pemanfaatan AI untuk mendukung pengembangan kota pintar atau smart city di Indonesia.
Sementara itu, Mastel menjalin kerja sama dengan China-ASEAN AI Application Cooperation Center. Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno mengatakan kerja sama tersebut mencakup peluang transfer teknologi AI, termasuk untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan pengelolaan rantai pasok logistik.
Sektor pelabuhan dan kawasan industri menjadi salah satu bidang yang dinilai dapat memanfaatkan teknologi tersebut.
Paviliun Indonesia juga diisi sejumlah perusahaan dan pelaku usaha, termasuk Pertamina bersama UMKM binaannya, PT Maspion, PT Pelindo, dan Krakatau Sarana Infrastruktur.
Pada hari pertama CAEXPO 2026, PT Danadyaksa Patangga Nusantara menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Jiangsu Navston Technology/Galaxy Link.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan infrastruktur telekomunikasi berbasis satelit Non-Geostationary Orbit (N-GSO) di Indonesia dan kawasan regional.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat