Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penanganan banjir di Ibu Kota harus dilakukan secara menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan, bukan secara sporadis atau setengah-setengah di lokasi tertentu.
Pernyataan ini disampaikan menyusul kembali tergenangnya sebagian wilayah Jakarta akibat curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Dalam jumpa pers hari ini, Pramono menyatakan bahwa banjir merupakan masalah multidimensi yang memerlukan pendekatan komprehensif. "Memang penanganan untuk banjir di Jakarta tidak bisa bersifat sporadis," ujarnya.
Gubernur mengakui bahwa meski berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, faktanya sebagian wilayah masih rentan tergenang saat hujan lebat. Ia menilai, selain faktor curah hujan tinggi, master plan pengendalian banjir Jakarta juga perlu menjadi sorotan dan evaluasi mendalam.
Untuk mengantisipasi genangan dalam jangka pendek, Pemprov DKI telah menyiagakan sekitar 1.200 unit pompa air. "Kurang lebih 600 pompa yang portable, 600 pompa yang mobile," jelas Pramono.
Ia membandingkan, dengan kondisi curah hujan serupa di masa lalu, genangan air pasti sudah muncul di banyak titik.
"Sekarang ini karena selalu kita siagakan, termasuk sekarang di Ancol memang ada kenaikan permukaan air, langsung kita pompa," tambahnya.
Gubernur menekankan bahwa selain langkah darurat, diperlukan perencanaan matang untuk jangka menengah dan panjang. Namun, ia mengakui bahwa solusi jangka panjang memerlukan waktu dan pendekatan yang lebih kompleks.
"Kalau jangka panjangnya sudah terlalu panjanglah untuk dipikirkan," ujarnya, menegaskan bahwa penanganan akan terus dilakukan secara bertahap.
Sebagai bagian dari mitigasi banjir, Pemprov DKI juga akan melanjutkan operasi modifikasi cuaca selama lima hari ke depan. Pramono menjelaskan, langkah ini diambil berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi pola hujan masih cukup tinggi.
"Kemarin pun kalau kita tidak lakukan modifikasi cuaca, sebenarnya dampaknya lebih dari yang sekarang ini," ujarnya. Ia menyebut, Pemprov telah menganggarkan dana untuk kemungkinan modifikasi cuaca selama 30 hari ke depan jika diperlukan.
Menurut Pramono, dari perhitungan yang dilakukan, dampak kerugian akibat banjir jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk modifikasi cuaca.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: