Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dicecar BEI Soal Lonjakan Saham di Tengah Penurunan Kinerja, Begini Jawaban RMKE

        Dicecar BEI Soal Lonjakan Saham di Tengah Penurunan Kinerja, Begini Jawaban RMKE Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencecar PT RMK Energy Tbk (RMKE) terkait lonjakan harga saham yang dinilai tidak sejalan dengan pelemahan kinerja keuangan, menyusul keputusan bursa menghentikan sementara perdagangan saham emiten tersebut mulai 13 Januari 2026.

        Sekretaris Perusahaan RMK Energy Tbk, Muhtar, menegaskan tidak menemukan informasi material internal yang menjadi pemicu langsung kenaikan harga saham.

        “Perseroan mencermati adanya kenaikan harga saham yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga saat ini, kami belum menemukan adanya informasi material internal yang dapat menjadi pemicu langsung atas pergerakan tersebut,” tulis Muhtar, dalam surat resmi kepada BEI tertanggal 16 Januari 2026. 

        Sebelumnya, BEI menghentikan sementara perdagangan saham RMKE di Pasar Reguler dan Pasar Tunai setelah mencatat peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026, saham RMKE ditutup melonjak 17,10% ke level Rp7.875.

        Baca Juga: BEI Suspensi Berjamaah 11 Saham yang Naik Tajam, Salah Satunya RMKE

        “Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE),” kata BEI dalam pengumuman resminya.

        Selain menyoroti pergerakan saham, BEI juga meminta penjelasan atas penurunan kinerja keuangan Perseroan. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, pendapatan RMKE tercatat turun dari Rp1,75 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp1,12 triliun.

        Muhtar menjelaskan, penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh turunnya penjualan batu bara pada semester I 2025, seiring penurunan harga batu bara global dan melemahnya permintaan dari China akibat ketidakpastian ekonomi global yang dipicu isu perang dagang.

        “Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari penjualan batu bara pada semester pertama tahun 2025 akibat dari penurunan harga batu bara dan menurunnya permintaan batu bara dari China,” ujarnya.

        Baca Juga: Saham RMKE Diprediksi Terbang ke Rp10 Ribu, Intip Profil dan Sosok Pemiliknya

        BEI juga menyoroti arus kas operasional RMKE yang berubah dari surplus Rp159 miliar menjadi defisit Rp65 miliar. Menurut manajemen, kondisi tersebut dipicu oleh peningkatan persediaan dan piutang usaha, seiring perbedaan waktu pembayaran pembelian dan penerimaan penjualan batu bara.

        Selain itu, Perseroan menjelaskan penggunaan fasilitas cerukan untuk menjaga likuiditas operasional dilakukan secara konservatif karena dinilai lebih fleksibel dan efisien dibandingkan fasilitas pinjaman modal kerja lainnya.

        Terkait peningkatan persediaan dan uang muka kontraktor, Muhtar menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk peningkatan kualitas jalan hauling melalui penerapan lapisan chipseal, guna mendukung efisiensi operasional dan peningkatan volume angkut batu bara.

        Menjawab pertanyaan BEI terkait informasi material di media massa, RMKE menegaskan tidak terdapat informasi material yang belum dilaporkan atau tidak benar yang dapat memengaruhi keputusan investasi pemodal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: