Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ngecas Murah, APPKLI Optimistis Kendaraan Listrik Makin Dilirik

        Ngecas Murah, APPKLI Optimistis Kendaraan Listrik Makin Dilirik Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Asosiasi Pengusaha Pengisian Kendaraan Listrik Indonesia (APPKLI) menilai adopsi kendaraan listrik di Indonesia berpeluang melaju lebih cepat seiring semakin kompetitifnya biaya pengisian daya dan meluasnya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai wilayah.

        Ketua APPKLI Cawir Ginting mengatakan tarif pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia saat ini menjadi salah satu yang paling murah di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor kunci yang mendorong minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik.

        “Biaya pengisian per kWH di SPKLU PLN dan HVT Recharge di Indonesia sangat rendah sekali dibanding dengan Singapore, Malaysia, Philipina dan Thailand baik Slow Charging AC sd Ultra Fast Charging, hanya 2466 IDR per KWH. Tarif yang murah ini sangat menarik bagi publik yang ingin beralih ke EV,” ujar Cawir kepada Warta Ekonomi, Rabu (21/1/2026).

        Baca Juga: Tak Ada Kepastian terkait Skema Insentif untuk Mobil Listrik, Pasar EV Bisa Mengalami Stagnasi

        Selain tarif yang kompetitif, APPKLI mencatat percepatan adopsi kendaraan listrik juga ditopang oleh pembangunan infrastruktur pengisian daya yang semakin masif. Mengacu pada mandat Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 yang diperbarui melalui Perpres Nomor 79 Tahun 2023, PLN bersama pihak swasta telah mengoperasikan lebih dari 4.500 unit SPKLU di seluruh Indonesia.

        Dengan penyebaran infrastruktur tersebut, Cawir menilai isu range anxiety atau kecemasan jarak tempuh antarwilayah kian berkurang. Pengalaman mobilitas kendaraan listrik selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu disebut menjadi bukti bahwa perjalanan lintas provinsi dapat dilakukan tanpa kendala berarti.

        “Penyebaran SPKLU di rest-rest area sudah mampu memenuhi kebutuhan pengemudi EV dari Merak sampai Banyuwangi. Demikian juga di Sumatra maupun tempat lainnya,” jelasnya.

        Baca Juga: Insentif Berakhir, Industri EV Dipaksa Naik Kelas

        Dari sisi teknologi, APPKLI juga melihat waktu pengisian baterai kendaraan listrik tidak lagi menjadi hambatan utama. Kapasitas pengisian daya terus meningkat seiring adopsi teknologi baru, baik pada infrastruktur pengisian maupun pada kendaraan listrik itu sendiri.

        “Saat ini perkembangan teknologi telah mampu mengisi sampai 400 kW. Demikian juga mobil-mobil EV telah banyak mengadopsi teknologi baru sehingga dapat menerima daya pengisian yang sangat besar. Sehingga waktu pengisian semakin singkat, 15 menit,” paparnya.

        Cawir menambahkan, integrasi fitur pemantauan ketersediaan SPKLU secara real-time melalui aplikasi turut meningkatkan kenyamanan pengguna. Dengan sistem tersebut, pengemudi dapat mengetahui status pengisian dan ketersediaan SPKLU sebelum tiba di lokasi.

        Baca Juga: Pasar EV Terancam Stagnasi, Pemerintah Didesak Guyur Insentif Baru

        Seiring pertumbuhan populasi kendaraan listrik nasional yang kini mendekati 200 ribu unit, APPKLI menilai dampak positif terhadap kualitas udara mulai terasa, khususnya di wilayah perkotaan. Meski demikian, pengukuran ilmiah tetap diperlukan untuk memastikan besaran penurunan emisi secara akurat.

        “Tentu perlu melakukan Air Quality measurement untuk mendapatkan real dampaknya. Namun secara jumlah mobil EV saat ini yang berjumlah hampir 200.000 unit, sangat membantu penurunan emisi,” pungkas Cawir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: