Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bocorkan Rahasia AI Google ke China, Eks Karyawan Terancam 175 Tahun Penjara

        Bocorkan Rahasia AI Google ke China, Eks Karyawan Terancam 175 Tahun Penjara Kredit Foto: Google AI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Eks karyawan Google diseret ke pengadilan Amerika Serikat setelah terbukti mencuri dan membocorkan rahasia teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai strategis dan bernilai tinggi.

        Mantan karyawan divisi software Google itu bernama Linwei “Leon” Ding (38), yang kini menghadapi ancaman hukuman penjara sangat berat.

        Berdasarkan berkas dakwaan, Ding dinyatakan bersalah atas total 14 dakwaan, terdiri dari tujuh dakwaan spionase ekonomi dan tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang.

        Ia terbukti mengambil informasi rahasia terkait chip Tensor Processing Unit (TPU), Graphics Processing Unit (GPU), serta SmartNIC yang merupakan komponen penting dalam infrastruktur komputasi AI milik Google.

        Jika dijatuhi hukuman maksimal, Ding terancam pidana hingga 175 tahun penjara, yakni 70 tahun dari dakwaan pencurian rahasia dagang dan 105 tahun dari dakwaan spionase ekonomi.

        Namun, vonis akhir tetap akan ditentukan oleh hakim dengan mempertimbangkan pedoman hukuman federal AS, termasuk kemungkinan hukuman dijalani bersamaan atau terpisah.

        Ding diketahui mulai bekerja di Google pada Mei 2019 dan memiliki akses ke sistem internal sensitif yang berkaitan dengan pengembangan software untuk optimalisasi GPU bagi pembelajaran mesin di Google dan Google Cloud.

        Pada Mei 2022, ia mulai menyalin lebih dari 1.000 file rahasia dengan memindahkan data dari repositori internal Google ke aplikasi Apple Notes di laptop kerjanya.

        Data tersebut kemudian diubah menjadi file PDF dan diunggah ke akun Google Cloud pribadi untuk menghindari deteksi sistem keamanan.

        Meski Google menerapkan sistem pengamanan berlapis, mulai dari pembatasan akses fisik hingga pemantauan jaringan dan aktivitas internal, aksi awal Ding sempat luput dari pantauan.

        Sebulan kemudian, Ding menerima tawaran menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di Beijing Rongshu Lianzhi Technology Co. Ltd, startup AI asal China.

        Perusahaan tersebut menawarkan gaji 100.000 yuan per bulan atau sekitar Rp 241 juta, lengkap dengan bonus dan kepemilikan saham.

        Pada Mei 2023, Ding juga mendirikan Shanghai Zhisuan Technology Co. Ltd dan menjabat sebagai CEO, dengan fokus mengembangkan sistem manajemen klaster untuk mempercepat beban kerja AI.

        Dokumen internal startup itu bahkan menyebut pengalaman membangun “platform komputasi puluhan ribu kartu ala Google”.

        Dokumen yang sama mengungkap rencana pemasaran teknologi Zhisuan ke entitas yang dikendalikan pemerintah China, termasuk lembaga pemerintahan dan institusi akademik.

        Kasus ini mulai terungkap pada Desember 2023 ketika Ding kembali mengunggah data Google ke akun Google Drive pribadinya untuk kedua kalinya.

        Padahal sebelumnya, Ding telah menandatangani pernyataan bahwa dirinya tidak menyimpan data Google, tanpa mengungkap riwayat penggunaan akun pribadinya.

        Google kemudian mendapati Ding tampil sebagai CEO Zhisuan dalam sebuah konferensi inkubator bisnis di China.

        Akses jaringan Ding langsung dibekukan, perangkat kerjanya dikunci jarak jauh, dan investigasi internal pun dilakukan.

        Rekaman pengawasan juga menunjukkan upaya manipulasi data kehadiran, seolah-olah Ding berada di AS, padahal ia sebenarnya berada di China.

        Pada Januari 2024, perangkat Ding disita dan FBI melakukan penggeledahan sebelum dakwaan resmi diajukan ke pengadilan pada Maret 2024.

        Meski tim pembela menyebut Ding tidak secara langsung menyerahkan rahasia dagang kepada pemerintah China, jaksa menilai bukti yang ada cukup kuat untuk membawa kasus ini ke persidangan.

        Jaksa Departemen Kehakiman AS menyatakan Ding bermaksud menguntungkan entitas yang dikendalikan pemerintah China melalui pengembangan superkomputer AI dan riset chip pembelajaran mesin.

        Juri akhirnya memutuskan Ding bersalah atas seluruh dakwaan yang diajukan jaksa.

        Hingga kini, belum ada kejelasan apakah teknologi rahasia Google tersebut sudah dimanfaatkan oleh pihak yang terafiliasi dengan pemerintah China.

        Google juga belum memberikan keterangan lanjutan terkait keamanan kekayaan intelektualnya pasca-kasus tersebut.

        Kasus Linwei Ding mengingatkan publik pada perkara mantan insinyur Google lainnya, Anthony Levandowski, yang terseret kasus pencurian teknologi mobil swakemudi.

        Baca Juga: Daftar HP Google Pixel yang Terima Update Februari 2026: Dari Seri 7a Hingga Pixel 10 Pro Fold

        Levandowski dijatuhi hukuman 18 bulan penjara pada 2020 setelah mengaku mencuri sekitar 14.000 file rahasia Waymo sebelum mendirikan startup pesaing.

        Meski mendapat pengampunan presiden AS pada 2021, kasus tersebut menjadi preseden penting penegakan hukum pencurian rahasia dagang di industri teknologi.

        Dalam konteks itu, perkara Linwei Ding dinilai jauh lebih serius karena menyangkut kebocoran teknologi AI inti yang berpotensi dimanfaatkan entitas negara asing.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: