Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Strategi Agresif Militer Iran Membalas Kematian Ali Khamenei, Disebut Bakal 'Ngempos' di Akhir

        Strategi Agresif Militer Iran Membalas Kematian Ali Khamenei, Disebut Bakal 'Ngempos' di Akhir Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menuntut membalas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel.

        Hingga Senin, Teheran terus melancarkan serangan balasan ke Israel serta aset militer AS di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersumpah melakukan pembalasan.

        IRGC menyatakan telah meluncurkan “operasi ofensif terberat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam” terhadap wilayah yang mereka sebut sebagai “tanah pendudukan” (merujuk pada Israel) dan pangkalan militer AS.

        Laporan dari Al Jazeera menyebut Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Amir Hatami, juga menegaskan komitmen untuk terus mempertahankan negara.

        Militer Iran mengklaim jet tempurnya telah membombardir pangkalan AS di kawasan Teluk pada Minggu.

        Ini bukan kali pertama Iran menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Pada Juni tahun lalu, dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel, Teheran meluncurkan gelombang rudal balistik ke Israel dan ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.

        Sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat. Serangan ke Al Udeid bahkan disebut telah diberi peringatan sebelumnya dan dinilai lebih sebagai langkah simbolis untuk menjaga wibawa.

        Iran Terapkan Strategi Agresif

        Namun, analis pertahanan menilai strategi militer Iran tahun ini telah bergeser menjadi lebih agresif meski agak sulit para analis membedah struktur militer dari Iran, sebab kekuatan militer Iran dikenal kompleks dan tidak sepenuhnya transparan.

        Iran memiliki dua struktur militer paralel: Artesh (militer reguler) yang bertugas menjaga pertahanan wilayah dan perang konvensional, serta IRGC yang tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan pertahanan, tetapi juga menjaga stabilitas politik dalam negeri.

        IRGC mengendalikan pertahanan udara dan persenjataan drone Iran, yang kini menjadi tulang punggung strategi penangkal (deterrence) terhadap Israel dan AS.

        Menurut sejumlah pakar, struktur berlapis ini memang dirancang untuk melindungi Iran dari ancaman eksternal maupun internal, termasuk potensi kudeta.

        Sejak serangan AS–Israel pada Sabtu, Iran membalas dengan drone Shahed dan rudal balistik berkecepatan tinggi yang diarahkan ke Israel serta pangkalan AS di kawasan Teluk.

        Meski banyak rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel, AS, dan negara Teluk, sebagian tetap menghantam sasaran militer dan infrastruktur sipil. Puing-puing rudal yang dicegat juga dilaporkan jatuh di area permukiman.

        Pada Sabtu, Kementerian Pertahanan Iran menyebut telah meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke Uni Emirat Arab, lokasi sejumlah pangkalan militer AS.

        Asap dan kebakaran bahkan dilaporkan terlihat hingga kawasan ikonik Dubai seperti Palm Jumeirah dan Burj Al Arab. Di Abu Dhabi, sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka akibat insiden di bandara, dan Bandara Dubai dan Kuwait juga dilaporkan terdampak.

        Di Israel, serangan rudal Iran ke kota Beit Shemesh pada Minggu menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.

        John Phillips, penasihat keamanan dan risiko asal Inggris serta mantan instruktur militer, menjelaskan bahwa strategi Iran saat ini berfokus pada bertahan dari tekanan intens AS–Israel, membangun kembali kapabilitas inti, serta memulihkan daya tangkal melalui eskalasi asimetris yang terukur.

        Strategi tersebut meliputi penguatan "kota rudal", yakni infrastruktur pertahanan bawah tanah untuk melindungi rudal balistik dan jelajah serta penyebaran struktur komando agar tetap memiliki kemampuan serangan balasan.

        Iran juga menggunakan serangan rudal dalam jumlah besar, drone, serta melibatkan sekutu regional seperti Hizbullah untuk membebani sistem pertahanan Israel dan AS.

        Pada Senin dini hari, Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sebagai bentuk pembalasan atas kematian Khamenei.

        Ancaman Tutup Selat Hormuz

        Sebagai bagian dari strategi meningkatkan tekanan global, Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20–30 persen pasokan minyak dan gas dunia.

        Meski belum resmi ditutup, data pelayaran pada Minggu menunjukkan sedikitnya 150 kapal tanker minyak dan gas alam cair memilih berlabuh di perairan Teluk di luar selat tersebut.

        "Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global," disitat dari laporan Al Jazeera.

        Perang 12 hari pada Juni 2025 menjadi titik balik penting. Konflik pecah setelah Israel menyerang fasilitas militer dan nuklir Iran pada 13 Juni 2025, menewaskan ilmuwan dan komandan militer penting.

        Iran pun membalas dengan ratusan rudal balistik ke kota-kota Israel. Meski korban di Iran cukup besar, dampak di Israel relatif lebih kecil, walau beberapa rudal sempat menembus sistem pertahanan Iron Dome.

        AS kemudian ikut terlibat pada 22 Juni dengan menyerang fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan. Presiden AS Donald Trump mengklaim kemampuan nuklir Iran telah dinetralisir.

        Gencatan senjata rapuh akhirnya tercapai pada 24 Juni, beberapa jam setelah Iran menembakkan rudal ke Pangkalan Al Udeid di Qatar.

        Menurut Phillips, sejak perang tersebut, Iran mengubah doktrin militernya dari pendekatan defensif menjadi lebih ofensif secara asimetris.

        Namun, meski kini lebih berani mengambil risiko dan cenderung eskalatif, kemampuan Iran disebut telah terdegradasi akibat kerusakan perang, sanksi, dan ketidakstabilan dalam negeri.

        Ke depan, respons Iran diperkirakan akan menyerupai reaksi pasca pembunuhan komandan IRGC, Qassem Soleimani, pada Januari 2020. Saat itu, Iran menembakkan lebih dari selusin rudal ke dua pangkalan AS di Irak, tanpa menimbulkan korban jiwa.

        Analis memperkirakan Iran kemungkinan akan meningkatkan serangan melalui kelompok proksi dan tidak menutup kemungkinan melancarkan serangan rudal jarak jauh berskala besar ke Israel sebagai unjuk kekuatan dan pembalasan simbolis.

        Sementara itu, seorang pakar militer sekaligus mantan pejabat pertahanan Iran mengatakan, konflik yang berlangsung saat ini sepenuhnya didominasi perang udara, tanpa pengerahan pasukan darat.

        "Iran memiliki militer yang kuat, tetapi ini adalah perang udara dan tidak ada pasukan di darat. Dalam hal pertahanan udara, Iran berada pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan AS dan Israel. Teheran memang meningkatkan persediaan rudal udaranya, namun hanya waktu yang bisa membuktikan apakah mereka mampu bertahan," kata pejabat tersebut dikutip dari Al Jazeera.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: