Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penelitian UI Soroti Dampak Positif Program MBG

        Penelitian UI Soroti Dampak Positif Program MBG Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sejumlah riset terbaru menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam pemenuhan gizi siswa, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga serta meningkatkan semangat belajar anak. Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada Maret 2026 dan kajian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang dirilis pada Februari 2026.

        Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI Dr. Hari Nugroho, MA menyatakan tingkat penerimaan masyarakat terhadap program MBG tergolong tinggi, terutama di kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah.

        “Salah satu temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini,” ujarnya.

        Hasil penelitian LabSosio UI menunjukkan program MBG membantu mengurangi beban ekonomi keluarga sekaligus memastikan siswa memperoleh akses makanan bergizi di sekolah. Program ini juga dinilai menjadi solusi bagi orang tua yang bekerja pada pagi hari sehingga tidak sempat menyiapkan sarapan untuk anak.

        Data penelitian menunjukkan hampir separuh siswa, atau 48,5%, mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan adanya MBG, sebanyak 85,8% siswa tercatat selalu menghabiskan makanan yang disediakan di sekolah.

        Temuan serupa juga disampaikan dalam riset RISED yang menyoroti dampak program MBG terhadap pengeluaran rumah tangga dan pola konsumsi anak. Peneliti RISED M. Fajar Rakhmadi menyatakan mayoritas orang tua dari keluarga rentan mendukung kelanjutan program tersebut.

        “Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Fajar.

        Riset RISED juga mencatat adanya perubahan pola makan anak setelah mengikuti program MBG. Sebanyak 72% orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55% menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.

        Selain dampak pada pola konsumsi, program MBG juga disebut berdampak terhadap semangat belajar siswa. Hal tersebut disampaikan oleh Adriana Hedmunrewa, orang tua siswa SD Negeri Weetabula II di Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

        Ia mengatakan program MBG membantu meningkatkan aktivitas belajar anaknya di sekolah. “Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi,” ujarnya.

        Meski demikian, penelitian tersebut juga mencatat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program di lapangan yang memerlukan penyempurnaan. Hari Nugroho menilai implementasi program berskala besar seperti MBG memerlukan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif.

        “Kami merekomendasikan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif untuk menjalankan program MBG. Salah satu langkah kuncinya adalah menempatkan sekolah sebagai subjek utama sejak tahap perencanaan. Keterlibatan aktif Dinas Kesehatan perlu dilakukan untuk melakukan supervisi dan pengawasan standar mutu dapur secara berkala,” katanya.

        Penelitian tersebut menilai program MBG telah menjadi salah satu inisiatif yang berpotensi mendukung kesehatan dan pendidikan siswa. Optimalisasi pelaksanaan program melalui koordinasi lintas sektor dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan efektivitas implementasinya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: