Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Intervensi Minyak Terbesar dalam 52 Tahun Sejarah IEA, Indonesia di Posisi Paling Rentan

        Intervensi Minyak Terbesar dalam 52 Tahun Sejarah IEA, Indonesia di Posisi Paling Rentan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Komisi Eropa pada Senin (9/3/2026) menyatakan tidak ada situasi darurat pasokan energi di negara-negara anggotanya, dan pernyataan itu terdengar wajar mengingat stok minyak mereka cukup untuk bertahan 90 hari.

        Tapi bagi Indonesia yang hanya punya cadangan 20 hari, ketenangan Eropa itu justru memperlihatkan betapa jauh posisi keduanya.

        "Kami jauh lebih tidak khawatir soal keamanan pasokan dibandingkan soal tingginya harga energi," kata juru bicara Komisi EU Anna-Kaisa Itkonen kepada wartawan di Brussels dikutip dari Anadolu.

        Di saat yang sama, menteri-menteri keuangan G7 sedang membahas pelepasan cadangan minyak strategis secara bersama sebagai respons atas lonjakan harga akibat perang di Timur Tengah.

        Melansir Bloomberg dan Reuters, volume yang sedang dipertimbangkan adalah 300 hingga 400 juta barel, jauh melampaui pelepasan cadangan 240 juta barel yang dikoordinasikan IEA pada 2022 saat krisis energi pasca invasi Rusia ke Ukraina.

        Angka itu setara dengan 25 hingga 30 persen dari total 1,2 miliar barel cadangan darurat global, dan disebut sebagai intervensi terbesar dalam 52 tahun sejarah IEA. Pengumuman rencana pelepasan ini langsung mendorong harga Brent turun dari puncaknya di 119,50 dollar ke kisaran 106 dollar per barel.

        Tapi para analis mengingatkan bahwa 400 juta barel hanya mampu menjembatani kebutuhan selama 20 hingga 40 hari jika Selat Hormuz benar-benar tertutup total.

        Jika konflik berlanjut berbulan-bulan, cadangan strategis global bisa habis sebelum situasi membaik, dan pasar yang sempat lega bisa berbalik panik lebih dalam dari sebelumnya.

        IEA sendiri memperingatkan bahwa meskipun pasar minyak global mengalami surplus sejak awal 2025, gangguan pasokan berkepanjangan bisa membalik kondisi itu menjadi defisit. Penutupan Selat Hormuz bahkan sudah memaksa sejumlah operator mulai menghentikan produksi di lapangan.

        Baca Juga: Akibat Serangan Terbaru Israel ke Iran, Harga Minyak Global Bisa Tembus 200 Dolar AS

        Standar IEA merekomendasikan cadangan strategis minimal 90 hari, persis angka yang dimiliki negara-negara EU. Indonesia berada di angka 20 hari, yang berarti jika intervensi G7 tidak cukup menstabilkan pasar dan konflik terus berlanjut, Indonesia termasuk negara yang paling cepat merasakan tekanannya di Asia.

        Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memegang presidensi bergilir G7, menyebut koordinasi antar kepala negara G7 soal energi sedang dikaji pekan ini, membuka kemungkinan keputusan yang lebih besar dari sekadar pelepasan cadangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: