Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Warren Buffett Lepas Saham dan Timbun Uang Tunai, Siapkan Dana Besar Hadapi Gejolak Pasar

        Warren Buffett Lepas Saham dan Timbun Uang Tunai, Siapkan Dana Besar Hadapi Gejolak Pasar Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Investor legendaris Warren Buffett disebut meningkatkan posisi kas dengan menjual sebagian saham dan obligasi yang dimilikinya. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk menyiapkan likuiditas dalam menghadapi potensi gejolak di pasar keuangan global.

        Investor sekaligus penulis buku keuangan Robert Kiyosaki menyoroti langkah tersebut melalui unggahannya di media sosial X. Menurutnya, Buffett sengaja memperbesar cadangan kas agar memiliki fleksibilitas membeli aset bernilai ketika harga pasar mengalami penurunan tajam.

        “Karena ia ‘menjaga amunisinya tetap kering’, artinya ia menyimpan uang tunai agar bisa membeli aset berharga setelah pasar jatuh dan harganya turun,” tulis Robert Kiyosaki.

        Kiyosaki menjelaskan strategi menyimpan kas dalam jumlah besar sering digunakan investor besar ketika mereka melihat potensi koreksi harga aset di pasar. Dengan likuiditas yang cukup, investor dapat membeli aset bernilai pada harga yang jauh lebih rendah saat pasar mengalami tekanan.

        Ia menilai langkah tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan pada sektor keuangan global. Dalam unggahan yang sama, Kiyosaki menyebut sejumlah lembaga keuangan dan bank besar menghadapi tekanan likuiditas.

        “Dana kredit swasta panik karena investor menarik uang mereka. Bank-bank besar dan institusi keuangan ternama sedang menghadapi masalah,” tulisnya.

        Selain itu, Kiyosaki merujuk pandangan analis ekonomi Jim Rickards yang menyatakan Amerika Serikat telah memasuki fase yang disebut sebagai “Depresi Baru”. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap sistem ekonomi global.

        Dalam situasi tersebut, sebagian investor dinilai memilih menahan kas untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar.

        Di sisi lain, Kiyosaki menyatakan dirinya mengambil pendekatan berbeda dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi. Ia mengaku justru meningkatkan investasi pada aset berbasis komoditas dan aset digital.

        “Pekan lalu saya menggunakan jutaan dolar uang tunai untuk membeli lebih banyak sumur minyak, emas, perak, dan Bitcoin,” tulisnya.

        Kiyosaki juga menyinggung faktor geopolitik yang dapat memengaruhi pasar energi global. Ia menyebut ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia.

        “Saya yakin selama Iran terus menembaki kapal tanker minyak di Selat Hormuz, harga minyak dari sumur minyak saya di Texas akan terus naik,” tulisnya.

        Menurut Kiyosaki, dalam periode ketidakpastian ekonomi global, aliran dana investor biasanya berpindah dari satu sektor ke sektor lain yang dianggap lebih aman atau memiliki potensi keuntungan lebih besar.

        “Selalu ingat aturan utama saat terjadi penarikan dana dari bank, uang selalu berpindah ke tempat lain,” tulisnya.

        Baca Juga: IHSG Anjlok? Ini Tips Investasi Saham Biar Tetap Aman

        Baca Juga: Tips Memanfaatkan THR untuk Investasi bagi Gen Z

        Baca Juga: Membangun Portofolio Ideal untuk Investasi Saham Pemula

        Ia menambahkan investor perlu memahami ke mana aliran dana global bergerak ketika tekanan terjadi pada sektor perbankan, bisnis, maupun pasar tenaga kerja.

        “Tugas Anda adalah mencari tahu ke mana uang yang keluar dari bank, bisnis, dan pekerjaan itu mengalir,” tulisnya.

        Meski demikian, Kiyosaki juga mengakui prediksi yang ia sampaikan tetap memiliki kemungkinan tidak terjadi. “Apakah saya bisa salah? Ya,” tulisnya.

        Namun ia menyatakan tetap memiliki sumber arus kas dari bisnis dan properti yang dimilikinya. “Jika saya salah, saya masih memiliki arus kas dari properti dan bisnis yang saya miliki,” tulisnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: