Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AirAsia Indonesia (CMPP) Masih Derita Rugi Rp1,29 Triliun pada 2025

        AirAsia Indonesia (CMPP) Masih Derita Rugi Rp1,29 Triliun pada 2025 Kredit Foto: Antara/Fikri Yusuf
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) masih membukukan kerugian pada periode 2025, meskipun nilainya menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga 31 Desember 2025, Perseroan mencatat rugi bersih Rp1,29 triliun, menyusut sekitar 15,12% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,52 triliun.

        Perbaikan tersebut turut membuat rugi per saham dasar berkurang menjadi Rp121,32, dibandingkan Rp142,95 pada tahun sebelumnya.

        Dari sisi pendapatan, maskapai ini mencatat pendapatan usaha Rp7,87 triliun, sedikit turun dari Rp7,94 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut terutama berasal dari operasi penerbangan Rp6,44 triliun, serta ancillary dan pendapatan lainnya Rp1,42 triliun.

        Sementara itu, total beban usaha tercatat Rp8,51 triliun, menurun dari Rp8,73 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya sejumlah komponen biaya operasional.

        Beban bahan bakar menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp3,16 triliun, turun dari Rp3,44 triliun. Namun di sisi lain, biaya perbaikan dan pemeliharaan justru meningkat menjadi Rp2,06 triliun, dari sebelumnya Rp1,65 triliun.

        Baca Juga: AirAsia Indonesia Pangkas Kerugian 15 Persen di 2025, Buka Rute Melbourne dan Da Nang di 2026

        Beberapa pos biaya lainnya juga mengalami perubahan. Pelayanan pesawat dan penerbangan tercatat Rp876,42 miliar, turun dari Rp971 miliar. Beban penyusutan juga menyusut menjadi Rp842,37 miliar dari Rp885,1 miliar.

        Selain itu, gaji dan tunjangan tercatat Rp728,32 miliar, turun dari Rp768,21 miliar. Sebaliknya, biaya pemasaran meningkat menjadi Rp455,57 miliar dibandingkan Rp422,61 miliar pada tahun sebelumnya.

        Beban sewa pesawat juga naik menjadi Rp87,49 miliar dari Rp51,9 miliar, sementara asuransi meningkat menjadi Rp65,45 miliar dari Rp60,95 miliar.

        Adapun rugi selisih kurs dari kegiatan operasional tercatat Rp235,02 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp270,41 miliar pada periode sebelumnya. Sementara itu, beban usaha lainnya turun tajam menjadi Rp3,33 miliar dari Rp204,01 miliar.

        Dengan berbagai komponen tersebut, rugi usaha Perseroan tercatat Rp644,59 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp790,39 miliar pada tahun sebelumnya.

        Baca Juga: Diskon 18 Persen Tiket Pesawat Mudik, Pemerintah Gelontorkan Rp911 Miliar demi Jaga Bisnis Maskapai

        Dari sisi neraca, total aset Perseroan tercatat Rp5,05 triliun, turun dari Rp5,71 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

        Sebaliknya, jumlah liabilitas bengkak menjadi Rp15,78 triliun dari Rp15,15 triliun. Kondisi ini membuat defisiensi modal perusahaan bertambah menjadi Rp10,73 triliun, dibandingkan Rp9,43 triliun pada tahun 2024.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: