Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ENI Finalkan Investasi Proyek Gas Raksasa di Kaltim, Nilai Tembus US$15 Miliar

        ENI Finalkan Investasi Proyek Gas Raksasa di Kaltim, Nilai Tembus US$15 Miliar Kredit Foto: SKK Migas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perusahaan energi asal Italia, Eni, resmi mengambil keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk dua proyek gas laut dalam di Kalimantan Timur, yakni Gendalo–Gandang (South Hub) serta Geng North–Gehem (North Hub). Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai lebih dari US$15 miliar.

        Keputusan tersebut diambil hanya 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024, menandai percepatan pengembangan proyek gas laut dalam di Indonesia sekaligus memperkuat sinyal kepercayaan investor global terhadap sektor hulu migas nasional.

        Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan, FID ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan produksi gas nasional.

        “Keputusan investasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. SKK Migas bersama pemerintah akan terus mendorong percepatan pengembangan proyek-proyek strategis seperti ini agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Djoko dalam keterangan, Kamis (19/3/2026).

        Proyek ini memanfaatkan teknologi laut dalam serta infrastruktur eksisting, termasuk Jangkrik Floating Production Unit (FPU) dan fasilitas LNG Bontang, guna menekan biaya sekaligus mempercepat komersialisasi.

        Secara teknis, pengembangan South Hub akan dilakukan di kedalaman laut 1.000–1.800 meter dengan pengeboran tujuh sumur produksi yang terhubung ke fasilitas Jangkrik. Sementara North Hub mencakup 16 sumur produksi di kedalaman 1.700–2.000 meter yang akan dihubungkan ke fasilitas FPSO baru berkapasitas lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.

        Secara keseluruhan, kedua proyek ini memiliki potensi sumber daya sekitar 10 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 550 juta barel kondensat. Produksi ditargetkan mulai pada 2028 dan mencapai puncak pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari.

        Gas yang dihasilkan akan dialirkan ke darat untuk memenuhi kebutuhan domestik serta mendukung produksi LNG di Bontang, sementara kondensat akan diproses di fasilitas lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.

        Djoko menambahkan, Eni saat ini juga telah memulai proses pengadaan proyek.

        “Dengan investasi senilai US$ +15 milyar, secara paralel Eni sedang menjalankan proses tender pengadaan barang dan jasa, serta telah membeli barang yang merupakan LLI (Long Lead Item). Kemarin Managing Director Eni Indonesia telah melaporkan kepada Bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang pengumuman FID ini,” jelasnya.

        Ia juga menyoroti potensi dampak ekonomi dari proyek tersebut, terutama terhadap penyerapan tenaga kerja.

        “Dengan nilai investasi tersebut, diperkirakan akan menyerap banyak sekali tenaga kerja, hingga ribuan orang,” imbuh Djoko.

        Selain itu, proyek ini akan menjadi bagian dari rencana kerja sama bisnis antara Eni dan Petronas untuk membentuk perusahaan baru (NewCo) yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.

        Eni sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan menjadi salah satu produsen utama gas di Cekungan Kutai, Selat Makassar, yang kini berkembang sebagai salah satu pusat produksi gas strategis nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: