Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Bakar Pesawat Hingga 2 Kali Lipat

        Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Bakar Pesawat Hingga 2 Kali Lipat Kredit Foto: WE are
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan tajam harga minyak global akibat konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran mulai menekan industri penerbangan, mendorong maskapai United Airlines memangkas rute dan kapasitas operasional untuk mengendalikan biaya.

        CEO United Airlines Scott Kirby menyatakan perusahaan bersiap menghadapi skenario lonjakan harga minyak hingga US$175 per barel dalam waktu dekat, dengan proyeksi harga tetap berada di atas US$100 hingga 2027.

        “Kerugian bisa ditekan jika kita mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk,” ujar Scott Kirby.

        Lonjakan harga energi tersebut berdampak langsung pada biaya bahan bakar maskapai yang diperkirakan bisa mencapai US$11 miliar per tahun, atau lebih dari dua kali lipat laba terbaik perusahaan.

        Sebagai respons, United Airlines akan mengurangi sekitar 3% penerbangan di luar jam sibuk mulai kuartal II dan III 2026. Maskapai juga memangkas 1% kapasitas operasional dari hub utama di Chicago serta melanjutkan penghentian rute menuju Tel Aviv dan Dubai.

        Secara keseluruhan, pemangkasan kapasitas diperkirakan mencapai 5% dari total rencana operasional tahunan.

        Tekanan biaya terjadi seiring harga bahan bakar jet yang telah melonjak hampir dua kali lipat sejak akhir Februari, dipicu gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

        Selain biaya, gangguan jalur penerbangan global juga menjadi tantangan tambahan bagi maskapai, terutama pada rute yang melintasi kawasan konflik.

        Meski demikian, permintaan perjalanan masih menunjukkan tren kuat. United Airlines mencatat tingkat pemesanan tertinggi sepanjang sejarah pada awal 2026, yang memberi ruang bagi perusahaan untuk menaikkan tarif tiket.

        Harga tiket pesawat tercatat telah naik sekitar 15%-20% dalam sepekan terakhir, dengan potensi kenaikan lanjutan sebesar 5%-7% dalam waktu dekat.

        Maskapai lain seperti Delta Air Lines juga menyatakan akan menyesuaikan kapasitas operasional untuk merespons kenaikan biaya. Mayoritas maskapai di Amerika Serikat dinilai lebih rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar karena tidak menerapkan strategi lindung nilai (hedging), berbeda dengan maskapai di Eropa dan Asia.

        Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Cadangan Bahan Bakar Nasional Tetap Aman Jelang Idulfitri

        Baca Juga: Harga Minyak Naik USD1, Beban Subsidi Energi Berpotensi Bertambah Rp6,7 T

        Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS

        Di tengah tekanan tersebut, United Airlines menegaskan tetap melanjutkan ekspansi jangka panjang, termasuk rencana penambahan sekitar 120 pesawat baru pada 2026, di antaranya 20 unit Boeing 787 untuk memperkuat rute internasional.

        Perusahaan juga memastikan tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja serta tetap menjalankan investasi sesuai rencana.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: