Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Peluang Perundingan AS dan Iran Masih Penuh Ketidakpastian

        Peluang Perundingan AS dan Iran Masih Penuh Ketidakpastian Kredit Foto: Reuters/Carlos Barria
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Masa jeda lima hari pertama AS menunda penyerangan terhadap pembangkit listrik Iran berakhir hari ini, Jumat, 27 Maret 2026. Malam tadi, Trump telah menyampaikan pesan bahwa masa jeda tersebut diperpanjang sepuluh hari lagi hingga 6 April, dengan alasan terjadi pembicaraan awal yang positif dan selanjutnya mengarah pada negosiasi langsung maupun melalui mediator dalam waktu dekat.

        Sebaliknya, Iran tetap membantah adanya pembicaraan itu dan terus-menerus mengingatkan dunia bahwa mereka sudah sangat tidak percaya kepada Trump serta tim perundingnya, karena dua kali telah dikelabui AS dengan menyerang Iran saat negosiasi sedang berlangsung.

        Jadi, apa alasan perpanjangan itu sebenarnya? Terlebih lagi kedua pihak tersebut justru menuntut prasyarat yang bertolak belakang untuk dapat dimulainya pembicaraan awal.

        Banyak negara dan analis skeptis terhadap kemungkinan dilakukannya perundingan. Namun, di sisi lain, dunia memang tidak memiliki pilihan lain kecuali berharap komunikasi antara kedua pihak itu berjalan lebih baik sehingga dapat menuju perundingan.

        Paket Prasyarat yang Kontradiktif

        Saat ini, nampaknya terkonfirmasi bahwa belum ada pembicaraan maupun komunikasi langsung antara Pemerintah AS dengan Pemerintah Iran menuju pembicaraan terkait gencatan senjata, apalagi perundingan perdamaian.

        Kesimpulan itu mempertimbangkan sikap Trump yang terus-menerus menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran sudah dilakukan, namun Iran mengatakan bahwa hal itu tidak ada sama sekali. Sehingga, mayoritas analis sepakat bahwa yang terjadi adalah komunikasi dilakukan melalui pihak ketiga.

        Ada sejumlah negara yang di belakang layar sudah berperan sebagai penengah, antara lain Oman, Turki, Mesir, dan Pakistan. Dari empat negara itu, nampaknya yang paling bisa diterima oleh kedua pihak adalah Pakistan.

        Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir (lebih dikenal dengan pangkat Field Marshal), adalah orang paling berpengaruh di Pakistan. Dia dikenal baik oleh Trump, juga oleh RRT dan negara-negara Timur Tengah karena berperan penting mengakhiri pertikaian perbatasan dengan India yang berisiko tinggi bagi kedua negara bersenjata nuklir di Asia Selatan itu pada tahun 2025. Dalam peran penengah ini, Jenderal Munir melakukan pembicaraan dengan Trump, yang kemudian menginformasikan 15 prasyarat perdamaian yang dituntut AS dari Iran.

        Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melakukan pembicaraan dengan pimpinan Iran dan menerima komunikasi lima prasyarat perdamaian dari pihak Iran kepada AS. Pakistan memang ditengarai merupakan salah satu negara yang memberikan asistensi kepada Iran dalam pengembangan nuklirnya, sehingga tentu memperoleh kepercayaan negara itu.

        Sekalipun terdapat 15 prasyarat dari AS terhadap Iran, secara ringkas paket itu dapat diringkas dalam 5 butir ini:

        • Pelucutan fasilitas nuklir;
        • Pelarangan pengayaan uranium;
        • Pembatasan produksi misil;
        • Penjaminan kebebasan pelayaran secara aman melalui Selat Hormuz;
        • Penghentian dukungan Iran kepada para sekutunya/proksi di kawasan.

        Sementara itu, Iran menyampaikan balasan 5 butir ini:

        • Jaminan bahwa tidak akan ada serangan lagi di masa depan ke Iran;
        • Pencabutan sanksi yang dikenakan kepada Iran selama ini;
        • Penerimaan kompensasi atau ganti rugi atas kerusakan yang diakibatkan oleh perang;
        • Penetapan sistem pembayaran baru untuk melintasnya kapal di Selat Hormuz;
        • Penutupan seluruh basis militer AS di kawasan.

        Melihat kedua paket prasyarat itu, hampir semua analis menilainya sebagai non-starter, yang berarti perbedaan terlalu ekstrem sehingga sangat tidak mungkin memulai suatu pembicaraan apa pun.

        Mengapa Trump Memperpanjang Batas Waktu?

        Berdasarkan kondisi itu, lalu mengapa Presiden Trump justru menyampaikan bahwa telah terjadi progres yang baik, sehingga memberikan tambahan waktu sepuluh hari lagi untuk mendorong pembicaraan?

        Dalam konteks ini, sebenarnya dunia sudah mengenal cukup baik teknik negosiasi Trump, belajar dari berbagai proses sebelumnya, terutama dari negosiasi tarif dagang unilateral AS yang berawal pada Liberation Day, 2 April 2025. Lebih khusus lagi, negosiasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara AS dengan RRT, yang sampai saat ini masih belum tuntas.

        Pada Liberation Day, Trump menetapkan China terkena tarif resiprokal 35% di atas tarif yang sudah berlaku sebelumnya, yang kemudian ditingkatkan menjadi 125%-145% pada April-Mei 2025.

        RRT kemudian membalas dengan mengenakan tarif 25% terhadap batubara, LNG, dan mesin pertanian, bersamaan dengan investigasi terhadap perilaku perdagangan perusahaan-perusahaan AS di RRT, dan tarif 125% pada produk-produk impor lainnya dari AS.

        Pada Juni-September 2025, AS menaikkan 50% lagi tarif untuk baja dan aluminium RRT, serta 50% tarif baru untuk sejumlah produk manufaktur.

        Setelah periode eskalasi yang merugikan AS maupun RRT, pada November 2025 terjadi deeskalasi hasil pertemuan di Korea. Kedua negara sepakat untuk menghentikan eskalasi tarif lebih lanjut selama setahun.

        Sebagai penggantinya, AS mengenakan tarif resiprokal 10% kepada produk RRT yang diperpanjang berlakunya sampai November 2026, dan RRT kembali membeli kedelai AS yang sebelumnya dihentikan sebagai pembalasan atas perilaku AS. Para petani dan pemroses kedelai, seperti daerah pertanian umumnya di AS, adalah konstituen kuat Trump pendukung MAGA/America First.

        Semula perjanjian perdagangan ini diharapkan dapat disetujui secara prinsip pada kunjungan Trump ke Beijing akhir April ini. Namun dengan terjadinya perang dengan Iran, pihak AS menundanya ke pertengahan Mei 2026.

        Episode perundingan dagang AS-RRT ini menjadi rujukan penting bagi strategi dan metode perundingan Trump untuk hal lainnya, termasuk dengan Iran. Apabila pihak lawan rundingnya merespons dengan langkah keras, seperti yang ditunjukkan RRT tahun lalu, maka Trump akan mengeskalasi lagi ancamannya.

        Dalam konteks dengan Iran, proses eskalasi itulah yang sedang dijalankan AS saat ini, yaitu memobilisasi kapal induk USS H.W. Bush dari Virginia ke Timur Tengah, mengirimkan 3.000 pasukan marinir dan 1.000 orang pasukan terjun payung (paratroopers) untuk menjadi unit infanteri yang siap diterjunkan ke Iran jika diperlukan.

        Selain itu, berbagai pernyataan maupun unggahan media sosial berupa ancaman sangat keras terhadap risiko yang akan diterima Iran apabila tidak bersedia berunding terus-menerus dilancarkan. Pada saat yang bersamaan, Trump “memberikan perpanjangan waktu” bagi Iran selama sepuluh hari.

        Gertakan atau Rencana Strategis?

        Trump sepanjang karier dan profesinya jauh sebelum menjadi presiden dikenal sebagai pengusaha yang sukses dengan menerapkan transactional deals. Pada tahun 1987, jurnalis Amerika Tony Schwartz menerbitkan buku The Art of the Deal yang menggambarkan kepiawaian Trump menyelesaikan banyak kesepakatan sulit, yang membawa ke kesuksesannya. Buku itu sempat menjadi New York Times bestseller selama 13 minggu, meskipun Schwartz sendiri di kemudian hari menyesal telah menulis buku itu, karena Trump sama sekali tidak memberikan kontribusi dalam penulisannya.

        Mungkin belajar dari pengalaman perundingan AS-RRT, dan berbekal pengalamannya sendiri berunding dengan Trump dan dikelabui, Iran menyampaikan lima prasyarat yang sangat berat dan pasti tidak akan disetujui oleh presiden AS mana pun.

        Di lain pihak, paket prasyarat Iran yang berat itu, ditambah dengan posisi keras bersikukuh tidak berbicara dan tidak mau berbicara dengan AS, telah memaksa Trump memperpanjang jeda waktu.

        Hal lain yang mencengangkan pihak AS dan dunia adalah adanya isyarat dari Iran bahwa mereka hanya akan mau berbicara dengan Wakil Presiden JD Vance, tidak dengan pimpinan tim perunding Trump selama ini, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

        Permintaan Iran itu sangat cerdik. Di satu sisi, Vance yang adalah veteran perang Irak, menganut aliran MAGA dan America First yang percaya dengan pendekatan isolasionisme AS. Artinya, AS tidak usah menjadi polisi, penengah, atau ikut campur dengan urusan negara lain mana pun di dunia, terlebih lagi sampai mengirimkan pasukan dan terlibat perang di belahan bumi lain yang bukan kepentingan langsung AS. Di lain sisi, Vance sebagai wakil presiden adalah salah satu calon kuat calon presiden pada tahun 2028, karena Trump secara konstitusional tidak bisa mencalonkan diri lagi.

        Dalam kondisi normal, isyarat Iran menginginkan hanya bicara dengan wakil presidennya mungkin akan ditolak Trump, karena sejak perang Iran dimulai awal Maret, Vance memang agak tersisihkan dengan posisinya yang antiperang di kawasan yang jauh itu.

        Namun tentu saja dengan batas waktu yang ketat dan kampanye pemilihan legislatif di AS yang sangat berisiko baginya, Trump nampaknya tidak akan keberatan. Bagaimanapun juga, Vance masih di bawah kendalinya.

        What’s Next

        Dengan perkembangan yang cepat itu, apa yang mungkin terjadi? Setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi.

        Skenario pertama, kedua pihak akan “memperbaiki” paket prasyarat yang disampaikan sehingga lebih realistis untuk menuju pembicaraan awal. Pihak Iran tentu harus menerima isu pengawasan pengayaan uranium dan senjata nuklir. Namun, bisa saja Iran meminta hal itu dilakukan oleh PBB ketimbang IAEA, dengan mengikutsertakan inspektur dari negara-negara yang dipercaya oleh Iran.

        Di lain sisi, pihak AS harus mengakui diperlukannya perjanjian di kawasan itu untuk tidak melakukan serangan lagi ke Iran, termasuk oleh Israel, dan sebaliknya Iran tidak menyerang negara-negara tetangganya.

        Sistem keamanan dan keselamatan pelayaran melalui Selat Hormuz tentu juga merupakan kepentingan besar kedua pihak, maupun dunia. Iran diperkirakan akan menuntut imbalan untuk menjalankan sistem itu, semacam biaya tol (toll fee) atau iuran para pengguna jasa yang utamanya adalah negara-negara GCC dan mitra dagang mereka.

        Baca Juga: AS Tunda Penyerangan Fasilitas Energi Iran: Langkah Perdamaian, Kemunduran Strategik, Kalkulasi Logistik Militer atau Insider Trading?

        Sebagai kompensasi dari kedua hal di atas, Iran juga diprakirakan akan menuntut pencabutan sanksi meluas yang berlaku sampai saat ini, serta kemungkinan ganti rugi atas kerusakan dan kehancuran luar biasa yang terjadi akibat serangan AS dan Israel selama perang ini. Apabila ketiga elemen ini menjadi bagian dari revisi rumusan paket prasyarat kedua pihak, ditambah Wapres Vance memimpin perundingan AS dengan Iran, maka probabilitas terjadinya pembicaraan awal atau setidaknya komunikasi lanjutan lewat pihak ketiga akan lebih realistis.

        Skenario kedua, kedua pihak bersikeras dengan posisinya masing-masing sehingga terjadi kebuntuan (deadlock). Hal ini dapat dipastikan berlanjut kepada eskalasi militer oleh kedua pihak. Dari pihak AS dapat saja menerjunkan pasukan infantrinya ke Pulau Kharg untuk menguasai fasilitas migas Iran, atau pulau lainnya yang lebih dekat dengan Selat Hormuz. Sudah dapat dipastikan bahwa Iran akan mencoba melumpuhkan pendudukan seperti itu, dan korban yang jatuh akan sangat meningkat, terutama di pihak AS karena struktur topografi di pulau-pulau itu yang datar dan terbuka.

        Skenario ketiga, sekalipun terjadi kemajuan dalam proses mencari titik temu posisi kedua pihak, prosesnya lambat. Jika hal ini terjadi, maka Trump akan mengeskalasi serangan ke Iran untuk menekan Iran lebih kuat lagi. Sebaliknya, Iran dapat membalas dengan serangan ke Israel dan GCC lebih intens. Skenario ini berisiko karena akhirnya bisa menjadi skenario kedua seperti di atas, mengingat sangat sulit mengendalikan perang taktis di lapangan. Skenario ini dapat berlangsung panjang sehingga dampaknya kepada kedua pihak, kawasan, dan ekonomi dunia sangat besar.

        Berdasarkan ketiga skenario itu, nampaknya tidak ada pilihan bagi dunia selain terus berhadapan dengan ketidakpastian dan gejolak yang tinggi dalam beberapa minggu ke depan. Harga migas dunia, rantai pasok produk turunan migas, dan pasar keuangan akan terus dibayangi oleh perang di Iran dengan segala konsekuensinya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: