Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Klaim Amerika Serikat Telah Berunding dengan Iran, Begini Hasilnya

        Trump Klaim Amerika Serikat Telah Berunding dengan Iran, Begini Hasilnya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan negosiasi perdamaian dengan Iran. Hal ini terjadi di tengah kabar bahwa mereka diam-diam tengah menyiapkan operasi darat ke Teheran.

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdamai dengan Iran. Hal ini memberikan sedikit harapan terkait konflik di Timur Tengah.

        Baca Juga: Diplomasi Mandek, Amerika Serikat Bakal Kerahkan Ribuan Tentara hingga Pasukan Elite di Iran

        Trump dalam hal ini memuji rezim dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Meski tak menyebutnya secara langsung, ia mengatakan pemimpin baru dari negara terkait cukup rasional. Oleh karenanya, ia optimistis akan mencapai kesepakatan dengan Teheran.

        Trump bahkan menilai bahwa perubahan kepemimpinan telah tercapai setelah serangan militer sebelumnya menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Eks Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

        Namun, ia menegaskan bahwa pengganti sang pemimpin menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap dialog. Meski demikian, ia juga menyebut ada kemungkinan bahwa kesepakatan tidak tercapai dengan Iran.

        “Saya pikir kita akan mencapai kesepakatan, tapi mungkin juga tidak,” ujar Trump.

        Sebelumnya, Pakista menawarkan diri sebagai mediator untuk mendamaikan konflik dari Iran, Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menyusul semakin panasnya konflik antara pihak terkait di Timur Tengah.

        Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar menyatakan bahwa negaranya siap menjadi tuan rumah pembicaraan damai dalam waktu dekat untuk mencapai penyelesaian konflik yang komprehensif. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah pertemuan itu akan dihadiri pihak dari Washington dan Teheran.

        Trump sendiri sebelumnya ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

        Amerika Serikat juga menyoroti blokade yang dilakukan negara tersebut terhadap Selat Hormuz. Trump dilaporkan tak ingin hal itu terjadi kembali dan oleh karenanya, ia juga meminta kontrol atas Selat Hormuz.

        Presiden Iran, Masoud Pezeshkian di sisi lain tengah menkaji proposal itu. Ia juga menegaskan pentingnya membangun kepercayaan sebagai dasar untuk membuka jalur negosiasi. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya belum melupakan bagaimana serangan terjadi tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Washington.

        Mandeknya upaya diplomasi ini membuat dunia khawatir, apalagi mengingat adanya peringatan dari Trump. Ia memperingatkan bahwa jika proposal tersebut tidak diterima, maka pihaknya akan memberikan tekanan militer yang lebih berat ke Iran.

        Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah mengirim ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah. Ia membuka opsi bagi operasi militer yang lebih luas, termasuk kemungkinan serangan darat.

        Salah satu yang menjadi sorotan adalah kabar bahwa mereka tengah mempertimbangkan pengiriman sekitar empat ribu tentara dari 82nd Airborne Division. Pasukan elite dengan respons cepat tersebut saat ini berbasis di Fort Bragg, North Carolina.

        Amerika Serikat juga dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman tentara hingga 10.000. Pasukan tambahan ini kemungkinan akan mencakup unit infanteri, kendaraan lapis baja hingga dukungan tempur lainnya. 

        Iran di sisi lain tetap menunjukkan sikap keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan bahwa ada ketidakkonsistenan sikap dari Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan upaya membahas negosiasi damai sambil mempersiapkan invasi darat yang dilakukan oleh Washington.

        Qalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tekanan atau “penghinaan” dari pihak mana pun. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya masih ingat bagaimana negaranya diserang tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Amerika Serikat.

        Adapun Israel menyatakan tidak akan menghentikan serangan terhadap Iran. Tel Aviv menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilakukan dengan menyasar fasilitas militer dari Tegeran.

        Baca Juga: Iran Soroti Demo No Kings di Amerika Serikat: Publik Marah Akibat Dominasi Israel di AS

        Pernyataan Trump dengan ini mengenai negosiasi  membuka harapan baru bagi penyelesaian konflik dengan Iran. Namun, dengan pengerahan pasukan dan serangan yang terus berlangsung, risiko eskalasi tetap tinggi dan masa depan perdamaian masih belum pasti.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: