Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menjelang akhir Maret 2026, masyarakat di dunia maya dihebohkan oleh informasi terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan.
Beragam respons bermunculan dan memicu kepanikan, seiring kekhawatiran apabila kabar tersebut benar terjadi.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik.
“BBM subsidi tidak naik,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Senin (30/3/2026).
Saat ini, BBM subsidi yang beredar di masyarakat meliputi Pertalite (RON 90) seharga Rp10.000 per liter dan BioSolar (CN 48) sebesar Rp6.800 per liter.
Meski demikian, Laode menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar global dan dapat berfluktuasi, serta ditetapkan setiap awal bulan.
“Untuk BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Pemerintah, kata dia, memastikan suplai BBM tetap terjaga dan stok dalam kondisi mencukupi.
“Kami mengimbau tidak perlu panic buying. Pemerintah menjaga agar harga BBM subsidi tetap stabil dan tersedia. Stok memadai,” tegasnya.
Sebelumnya, beredar informasi di media sosial X berupa unggahan bergambar bertuliskan confidential terkait rencana kenaikan harga BBM. Dalam unggahan akun @MurtadhaOne1 disebutkan data tersebut berasal dari PT Pertamina Patra Niaga.
Dalam informasi tersebut, harga jual eceran BBM non-subsidi (jenis bahan bakar umum/JBU) pada April 2026 diperkirakan mengalami kenaikan seiring perubahan komponen pembentuk harga.
Berdasarkan data periode 25 Februari hingga 24 Maret 2026 dibandingkan periode sebelumnya, kurs tengah tercatat melemah 0,34% atau Rp58 per dolar AS, dari Rp16.819 menjadi Rp16.877 per dolar AS.
Pada periode yang sama, harga indeks pasar (HIP) gasoline RON 92 naik 62,44% dari US$73,91 per barel menjadi US$120,06 per barel. Secara rupiah, kenaikan tersebut setara 62,99% atau Rp4.925 per liter, dari Rp7.818 menjadi Rp12.744 per liter.
Sementara itu, HIP gasoil 2.500 ppm naik 90,65% dari US$87,23 per barel menjadi US$166,31 per barel atau meningkat 91,30% setara Rp8.425 per liter, dari Rp9.228 menjadi Rp17.653 per liter.
Berdasarkan perhitungan tersebut, harga BBM non-subsidi pada April 2026 diperkirakan mengalami penyesuaian. Pertamax diproyeksikan naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp17.850 per liter atau meningkat Rp5.550 per liter.
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Dinilai Wajar Saat Harga Minyak Dunia Melonjak, Ini Kata Ekonom
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Indonesia Belum Akan Pangkas Kuota Subsidi BBM
Baca Juga: WFH Dipilih Hari Jumat, Purbaya Sebut Tak Ganggu Produktivitas dan Tetap Hemat BBM
Pertamax Green 95 diperkirakan naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp19.150 per liter atau meningkat Rp6.250 per liter. Pertamax Turbo diperkirakan naik dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.450 per liter atau meningkat Rp6.350 per liter.
Untuk BBM jenis diesel, Pertamina Dex diperkirakan naik dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.950 per liter atau meningkat Rp9.450 per liter. Sementara itu, Dexlite diperkirakan naik dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.650 per liter atau meningkat Rp9.450 per liter.
Warta Ekonomi telah berupaya mengonfirmasi kebenaran data tersebut kepada pihak PT Pertamina Patra Niaga, namun hingga kini belum memperoleh tanggapan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri