Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PT Timah Kejar Produksi 30 Ribu Ton pada 2026

        PT Timah Kejar Produksi 30 Ribu Ton pada 2026 Kredit Foto: PT Timah Tbk
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Timah Tbk membidik peningkatan produksi bijih timah hingga 30 ribu ton pada 2026.

        Jumlah tersebut meningkat dibanding volume RKAP perseroan tahun 2025 sebesar 21.500 ton.

        Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan, perseroan optimistis mencapai target tersebut, seiring keberhasilan penertiban tambang dan penguatan kemitraan dengan masyarakat melalui koperasi.

        "Sehingga tahun 2026 nanti kami sangat PD dan siap menerima RKAB 30.000 ton untuk biji timah," kata Restu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR, dikutip pada Rabu (1/4/2026).

        Restu menjelaskan, sepanjang 2025 PT Timah melakukan dua langkah utama untuk meningkatkan produksi, yakni penertiban tata kelola pertambangan serta penanganan aktivitas tambang ilegal.

        Upaya tersebut dilakukan dengan dukungan Satgas PKH hingga Satgas Trisakti.

        Menurutnya, penertiban dilakukan secara bertahap, karena aktivitas tambang berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat.

        Oleh karena itu, perusahaan mengedepankan pendekatan koperasi sebagai solusi.

        "Kami sepakat untuk tahun 2025 memulai kegiatan menggunakan penertiban dan koperasi."

        "Kami sudah mempunyai tujuh koperasi yang mulai bekerja bersama PT Timah dan hasilnya cukup bagus," ujar Restu.

        Perseroan menargetkan pembentukan hingga 100 koperasi pada 2026, untuk memperkuat produksi sekaligus memperbaiki tata kelola pertambangan rakyat.

        Restu menyebut produksi PT Timah sepanjang 2025 mencapai 18 ribu ton, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

        Produksi tersebut sebenarnya berpotensi mencapai 20 ribu ton, namun terkendala proses administrasi terhadap sekitar 2.000 ton timah hasil sitaan.

        "Secara lapangan sudah ada tambahan sekitar 2.000 ton, tetapi secara administrasi belum selesai, sehingga belum bisa dimasukkan dalam produksi 2025," jelasnya.

        Sejalan dengan peningkatan produksi, kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan perbaikan.

        PT Timah mencatat pendapatan sekitar Rp12 triliun, dengan laba bersih mendekati Rp1,2 triliun pada 2025.

        Sementara, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Suhendra Yusuf Ratu mengatakan, peningkatan produksi juga akan ditopang strategi pengembangan usaha dan hilirisasi, termasuk pengelolaan mineral ikutan.

        Ia menyebut PT Timah tengah mengembangkan pengolahan logam tanah jarang atau rare earth element (REE), yang berasal dari mineral ikutan timah seperti monasit.

        "Kami telah menyusun roadmap dari sisi internal PT Timah, yang mana sejak 2025 sudah kami lakukan, dan insyaallah pada 2028 industri REE ini dapat dibangun," beber Suhendra.

        Menurutnya, PT Timah juga telah mengidentifikasi potensi indikatif monasit mencapai sekitar 1,2 juta ton, di wilayah izin usaha pertambangan perusahaan.

        "Potensi indikatif monasit sebagai bahan utama logam tanah jarang di IUP PT Timah berada pada kisaran 1,2 juta ton," ujar Suhendra.

        Baca Juga: PT Timah Bidik 100 Koperasi untuk Tertibkan Tambang di 2026

        Ia menambahkan, untuk mempercepat pengembangan industri REE, PT Timah juga menjalin kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung serta konsorsium nasional, guna mendukung hilirisasi mineral ikutan.

        Perseroan juga meminta dukungan pemerintah dan DPR terkait percepatan perizinan, perbaikan tata niaga, serta penguatan pengawasan, guna memastikan target produksi 2026 dapat tercapai. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: