Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Petinggi BYD Angkat Bicara soal Perdana Menteri Thailand Terpilih Gunakan Mobil BYD sebagai Tunggangannya

        Petinggi BYD Angkat Bicara soal Perdana Menteri Thailand Terpilih Gunakan Mobil BYD sebagai Tunggangannya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Manajer Umum BYD Thailand Ke Yubin menilai krisis energi di Selat Hormuz, diharapkan menjadi momentum masyarakat untuk beralih konsumen ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

        Laporan yang dikutip dari Xinhua, BYD menyebut permintaan pasar luar negeri terhadap kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) buatan China meningkat di tengah guncangan pasar minyak baru-baru ini.

        BYD menyebut baru-baru ini Perdana Menteri Thailand yang baru terpilih Anutin Charnvirakul terlihat menggunakan mobil EV dari BYD dan mengunjungi stan BYD di Bangkok International Motor Show pada 28 Maret.

        Penjualan EV BYD di Thailand terus tumbuh dengan kuat, dengan pesanan yang meningkat secara stabil, ungkap perusahaan itu.

        "Ini karena kebijakan yang didukung oleh pemerintah Thailand serta kenaikan harga minyak global yang telah menyoroti keunggulan EV," tambahnya.

        BYD masuk ke pasar Thailand pada 2022 dan sejak saat itu telah bertransformasi dari mengekspor produk menjadi membangun sebuah ekosistem produksi yang sepenuhnya terlokalisasi.

        Pabriknya di Rayong, yang merupakan pabrik mobil penumpang pertama perusahaan itu di luar negeri, memiliki kapasitas tahunan sebesar 150.000 unit kendaraan, dengan lebih dari 90 persen tenaga kerjanya berasal dari Thailand.

        BYD mengklaim ekspansi pasarnya ditunjang dengan kualitas produk, desain, dan operasi yang terlokalisasi, sekaligus membantah narasi yang menyebut adanya "kelebihan kapasitas" dan "dumping" terkait EV China.

        "Produksi kami sejalan dengan permintaan pasar, dan harga di luar negeri umumnya lebih tinggi dibandingkan harga di dalam negeri, tanpa adanya praktik dumping harga rendah," kata BYD.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: