Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Dibantu Soal Perang Amerika Serikat-Iran, Trump Luapkan Kekecewaan ke Bos NATO

        Tak Dibantu Soal Perang Amerika Serikat-Iran, Trump Luapkan Kekecewaan ke Bos NATO Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meluapkan kekecewaannya terhadap North Atlantic Treaty Organization (NATO). Hal itu dilakukannya dalam pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte.

        Rutte mengatakan bahwa sang presiden menilai organisasi tersebut telah gagal saat diuji dalam perang melawan Iran. Meski demikian, diskusi berlangsung terbuka dan tetap dalam kerangka hubungan baik.

        Baca Juga: Inggris Tolak Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz

        "Dia jelas kecewa dengan banyak sekutu dan saya bisa memahami sudut pandangnya. Ini adalah diskusi yang sangat jujur ​​dan terbuka, tetapi juga diskusi antara dua teman baik," kata Rutte.

        Rutte sendiri mengatakan bahwa sebagian besar negara anggota aliansi tetap memberikan dukungan di Iran. Meski demikian, ada beberapa yang dinilai tidak memenuhi komitmen. Diketahui, beberapa negara sekutu menolak memberikan akses wilayah udara bagi pesawat militer atau enggan mengirimkan kapal untuk membantu membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

        Trump marah akan hal tersebut bahkan langsung memberikan kritikan terhadap NATO. Ia menyebut alinasi tersebut hanyalah seperti macan kertas. Amerika Serikat di sisi lain juga mengancam akan menarik diri dari NATO.

        Washington menilai bahwa anggota alinasi terlalu bergantung pada perlindungan keamanan dari Amerika Serikat. Namun mereka di sisi lain tak memberikan kontribusi yang setara.

        Banyak negara sekutu diketahui cenderung enggan terlibat langsung di Timur Tengah. Banyak diantaranya menawarkan bantuan mulai dari pengawasan jalur pelayaran hingga pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz. Namun mereka hanya akan melakukan hal itu ketika negosiasi damai tercapai oleh Iran dan Amerika Serikat.

        NATO dan Amerika Serikat sendiri sebelumnya pernah bersitegang terkait dengan berbagai isu mulai dari pembagian beban pertahanan hingga isu terkait dengan Greenland dan Ukraina. Trump sebelumnya pernah mengancam ingin melakukan aneksasi terhadap Greenland.

        Di Ukraina, Amerika Serikat juga terpantau mengurani dukungan militernya menyusul fokus perangnya terhadap Iran. Hal tersebut merupakan sesuatu yang dikhawatirkan oleh Eropa.

        Diketahui, North Atlantic Treaty Organization (NATO) didirikan pada 1949. Ia selama ini menjadi pilar utama keamanan dari Barat. Namun, perbedaan sikap dalam konflik terbaru menunjukkan tantangan baru bagi aliansi tersebut dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

        Baca Juga: Miskalkulasi Amerika Serikat, Gencatan Senjata Malah Perkuat Posisi Iran di Timur Tengah

        Amerika Serikat saat ini masih terlihat memenuhi  komitmen terhadap NATO. Namun ketegangan yang muncul menunjukkan adanya risiko retaknya solidaritas dalam aliansi. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini dapat melemahkan koordinasi keamanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: