Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Konflik Iran-AS Picu Risiko Klaim, Premi Bisa Naik 3 Kali Lipat

        Konflik Iran-AS Picu Risiko Klaim, Premi Bisa Naik 3 Kali Lipat Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) mengungkap konflik geopolitik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) meningkatkan risiko klaim pada perdagangan internasional dan pelayaran, serta berpotensi mendorong kenaikan premi asuransi hingga tiga kali lipat. Industri merespons dengan memperketat seleksi risiko dan memperkuat mitigasi.

        Direktur Utama ASEI Dody Dalimunthe mengatakan lonjakan risiko akibat ketegangan geopolitik dapat berdampak langsung terhadap penetapan premi di industri asuransi.

        "Itu bisa 3 kali lebih. Cuman ASEI tidak ada di situ. Kita cari yang aman-aman aja," ujarnya usai acara PPDP Regulatory Dissemination Day, Senin (13/4/2026).

        Menurut Dody, konflik tersebut juga berpotensi menekan kinerja asuransi perdagangan, khususnya pada sektor ekspor. Gangguan jalur logistik dan perubahan rute pengiriman dapat menyebabkan keterlambatan distribusi barang ke negara tujuan.

        “Karena barang yang harusnya diterima itu sebulan bisa molor ke sana. Sehingga si buyer di luar negeri yang mungkin sudah ada deal dengan pembeli di sana bisa-bisa pembelinya menunggu kelamaan dan tidak jadi beli,” ujarnya.

        Baca Juga: Bidik Segmen Retail Berbasis Digital, Asuransi Asei Indonesia Resmi Luncurkan Lima Produk Unggulan

        Baca Juga: OJK Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Industri Asuransi

        Baca Juga: PSAK 117 Tekan Industri Asuransi, OJK Siapkan Relaksasi

        Keterlambatan tersebut dinilai berisiko mengganggu arus pembayaran kepada eksportir, terutama jika barang menumpuk di jalur distribusi. ASEI menyatakan telah melakukan langkah mitigasi sejak dini untuk mengantisipasi dampak tersebut.

        “Itulah tantangan ASEI untuk asuransi perdagangan ekspor. Tapi kami udah mitigasi jauh-jauh hari. Karena sebelum case teluk ini kan sudah ada perang dagang dengan Amerika,” ujarnya.

        Dari sisi industri, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menyebut konflik geopolitik meningkatkan kompleksitas pengelolaan risiko, terutama pada lini asuransi pelayaran dan perdagangan internasional.

        "Bagi industri asuransi, hal ini berpotensi meningkatkan eksposur risiko pelayaran, tambahan premi war risk, serta tekanan klaim akibat keterlambatan pengiriman, perubahan rute, atau inflasi biaya perbaikan dan penggantian barang," ujarnya kepada Warta Ekonomi pada Selasa (3/3/2026).

        Budi mengatakan industri di dalam negeri merespons kondisi tersebut dengan memperkuat strategi mitigasi risiko dan melakukan penyesuaian kebijakan underwriting.

        Baca Juga: Aset Asuransi Tembus Rp1.219 T, Tumbuh 6,8%

        Baca Juga: Risiko El Nino Ekstrem Bayangi Lonjakan Klaim Asuransi?

        "Di dalam negeri, pendekatan yang dilakukan industri adalah melakukan review portofolio secara hati-hati, memperkuat koordinasi dengan reasuradur, memastikan kejelasan klausul area berisiko, serta menetapkan persyaratan tambahan bila diperlukan," katanya.

        Ia menambahkan, hingga saat ini kondisi industri asuransi nasional masih relatif terjaga meskipun kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global terus ditingkatkan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: