Kredit Foto: Istimewa
Tekanan global yang makin meningkat, mulai dari lonjakan harga minyak hingga konflik geopolitik, tidak membuat pemerintah lengah menjaga kesehatan fiskal nasional. Kementerian Keuangan memastikan posisi utang Indonesia tetap terkendali dan berada dalam batas aman.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kemenkeu Noor Faisal Achmad menegaskan, pengelolaan fiskal dilakukan secara hati-hati agar tidak melewati batas yang telah ditetapkan. Pemerintah tetap menjaga defisit anggaran dan rasio utang sesuai koridor yang prudent.
“Di tengah tekanan, termasuk kenaikan harga minyak dunia, Indonesia lebih kuat dibandingkan negara sejawat. Dari sisi fiskal, kami menjaga defisit yang prudent, tetap di bawah 3 persen. Rasio utang juga dijaga di bawah 60 persen,” ujar Noor Faisal dikutip dari ANTARA.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum ekonomi internasional yang digelar di Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif solid dibandingkan sejumlah negara lain yang menghadapi tekanan lebih berat.
Ketahanan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di level tinggi serta inflasi yang masih terkendali. Stabilitas ini menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan fiskal di tengah ketidakpastian global.
Tidak hanya itu, indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan angka pengangguran dan kemiskinan menjadi bukti bahwa stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global.
Namun, pemerintah menyadari tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat, terutama dari sisi energi. Kenaikan harga minyak dunia dinilai dapat memberikan efek berantai terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi domestik.
Dalam kondisi tersebut, ruang fiskal yang sehat menjadi kunci utama. Pemerintah menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai alat utama untuk meredam guncangan eksternal.
Dengan fondasi fiskal yang kuat, pemerintah memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengintervensi jika diperlukan. Hal ini penting agar gejolak global tidak langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
“Dengan fiskal yang kuat, kita memiliki kemampuan lebih besar untuk meredam dampak gejolak eksternal tanpa mengganggu kredibilitas APBN,” jelasnya.
Baca Juga: World Bank Prediksi Pertumbuhan Ekknomi RI Melambat ke 4,7 Persen, Begini Tanggapan Kemenkeu
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah terus memantau perkembangan global secara intensif. Berbagai skenario juga telah disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Langkah yang ditempuh tidak hanya fokus pada pengendalian belanja, tetapi juga optimalisasi penerimaan negara. Efisiensi anggaran menjadi salah satu strategi utama untuk memastikan ruang fiskal tetap sehat.
Selain itu, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan perlindungan masyarakat. Tujuannya agar tekanan global tidak secara langsung meningkatkan beban biaya hidup masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: