Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BDT 2026 Dibuka, Begini Cara Daftar Beasiswa AI dari Kementerian Ekraf

        BDT 2026 Dibuka, Begini Cara Daftar Beasiswa AI dari Kementerian Ekraf Kredit Foto: Unsplash/Arpad Czapp
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) membuka pendaftaran beasiswa Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026, untuk mencetak talenta digital berbasis kecerdasan buatan (AI).

        Program beasiswa yang diinisiasi oleh Kemenekraf ini dapat diakses secara online melalui platform Dicoding Indonesia, dengan kuota 2.200 peserta dan batas pendaftaran hingga 31 Mei 2026

        Peserta akan mengikuti pembelajaran mandiri (self-paced) berbasis kurikulum global, baik kemampuan interpersonal (soft skill) maupun kemampuan teknis (hard skill), dengan fokus pada pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas kerja.

        Cara mendaftar beasiswa BDT 2026 cukup mudah.

        Calon peserta hanya perlu mengakses situs resmi program di bdt.dicoding.com, sebelum 31 Mei 2026.

        Setelah itu, peserta akan mengikuti pelatihan intensif dari Dicoding yang mencakup materi penggunaan AI, pemilihan tools produktivitas, hingga teknik prompt engineering.

        Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf Muhammad Neil El Himam menjelaskan, program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan industri akan talenta digital.

        Program ini bertujuan menjawab persoalan skill gap and talent gap, sekaligus memastikan para peserta memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, termasuk AI.

        "Melalui Program BDT 2026, kami ingin menjembatani kebutuhan industri dengan ketersediaan talenta digital yang kompeten."

        "Hal ini sejalan dengan komitmen mewujudkan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi," ungkap Neil di Auditorium Gedung Film, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

        Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan AI di kawasan Asia Tenggara.

        "Dengan semua potensi yang Indonesia punya, kita bisa menjadi pemimpin di Asia Tenggara dalam mengakselerasi kemampuan terhadap AI untuk produktivitas."

        "Kami sangat berharap BDT 2026 dapat melahirkan talenta kreatif yang unggul dan berdaya saing dalam penguasaan AI, sehingga semakin produktif untuk berkarya memajukan 17 subsektor ekonomi kreatif Indonesia," tuturnya.

        Sementara, CEO Dicoding Narendra Wicaksono mengungkapkan, kolaborasi dengan Badan Ekraf menghasilkan dampak signifikan bagi talenta digital Indonesia.

        Ia mengatakan, kolaborasi antara Kemenekraf dan Dicoding yang sudah berjalan sejak 2016, menghasilkan dampak ekonomi senilai Rp306 miliar, sebanyak 15.168 sertifikasi dalam bidang IT, dan 215.000 talenta digital yang mendapatkan penguatan skills.

        "Dicoding menjadi sebuah lembaga pembelajaran yang memiliki misi bagaimana mengembangkan talenta Indonesia pada skala global."

        "Selama 11 tahun Dicoding berada dalam industri, ada 1,3 juta developer yang sudah terdaftar dan belajar dalam platform, sekitar 879 ribu di antaranya menerima beasiswa," beber Narendra.

        Ia juga menyoroti tingginya adopsi AI di kalangan developer yang berdampak langsung pada produktivitas kerja.

        "Hasil survei Dicoding menyebut 86% developer sudah menggunakan AI, dan 94% developer di antaranya sudah merasakan lonjakan produktivitas."

        "Dicoding menyambut positif inisiatif BDT 2026 yang akan melatih peserta untuk menyederhanakan proses kerja menuju utilisasi AI yang lebih terukur, dan berdampak meningkatkan portofolio profesional mereka," lanjutnya.

        COO Dicoding Dimas Catur Wibowo menambahkan, program ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik langsung.

        Baca Juga: Kementerian Ekraf Buka Kerja Sama Strategis dengan AS, Dorong Talenta Kreatif Berbasis Budaya

        "Program BDT 2026 merupakan inisiatif strategis untuk mencetak talenta digital yang mampu menguasai AI, dan mendorong produktivitas tanpa batas."

        "Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri," ucapnya. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: