Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ada China di Balik Kemampuan Iran Serang Pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah

        Ada China di Balik Kemampuan Iran Serang Pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran dilaporkan secara diam-diam memperoleh satelit mata-mata dari China di 2024. Satelit tersebut kemudian digunakan untuk memantau dan menargetkan pangkalan militer dari Amerika Serikat di Timur Tengah.

        Dikutip dariĀ Financial Times, Satelit terkait bernama TEE-01B. Ia disebut dibangun dan diluncurkan oleh perusahaan China, Earth Eye Co. Satelit tersebut kemudian dioperasikan oleh unit kedirgantaraan dari Islamic Revolutionary Guard Corps.

        Baca Juga: Trump Kembali Serang Paus Leo, Kini Ungkit Soal Nuklir Iran

        Menurut laporan, mereka menggunakan satelit ini untuk mengumpulkan data koordinat target, mendukung operasi drone dan rudal hingga memantau pangkalan militer dari Amerika Serikat.

        Satelit tersebut dilaporkan memantau sejumlah lokasi strategis, termasuk pangkalan udara di Arab Saudi, Irak. Selain itu, ia juga digunakan untuk mengawasi fasilitas militer di Yordania dan Bahrain.

        Iran, sebagai bagian dari kerja sama, juga disebut memperoleh akses ke jaringan stasiun bumi milik Emposat. Ia merupakan perusahaan berbasis do Beijing.

        Jaringan ini memungkinkan kontrol satelit jarak jauh, pengolahan data citra dan distribusi informasi intelijen Laporan menyebut satelit tersebut sempat mengambil gambar pangkalan udara dari Prince Sultan di Arab Saudi.

        Lapangan tersebut diketahui menjadi target serangan dari Iran. Amerika Serikat sendiri mengonfirmasi bahwa pesawatnya dalam pangkalan itu terkena serangan dari Teheran.

        Perkembangan ini menambah kompleksitas konflik di Timur Tengah. Ia meningkatkan kekhawatiran terkait penggunaan teknologi luar angkasa dalam operasi militer modern. Selain itu, ia juga bisa mempengaruhi pembicaraan damai dari Iran dan Amerika Serikat.

        Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

        "Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.

        Ia mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.

        Guterres menekankan bahwa konflik yang kompleks tidak dapat diselesaikan dalam satu putaran perundingan. Menurutnya, Washington dan Teheran kemungkinan besar harus melakukan negosiasi bertahap sembali melakukan gencata senjata di Timur Tengah.

        Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan gencatan senjata menjadi faktor krusial agar negosiasi dapat berjalan efektif. Menurutnya, proses diplomasi harus disertai stabilitas di lapangan.

        Baca Juga: Dari Kawan Jadi Lawan, Trump Bikin Publik Italia Marah Gegara Kecam Paus Leo

        "Saya pikir tidak realistis untuk mengharapkan masalah yang begitu kompleks, masalah yang berkepanjangan, dapat diselesaikan pada sesi pertama negosiasi. Jadi kita perlu negosiasi untuk terus berlanjut, dan kita perlu gencatan senjata untuk tetap berlaku selama negosiasi berlangsung," katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: