Laba Antam Melejit 106%, DPR Soroti Tunggakan Rp719 Miliar ke PLN Terkait Smelter Haltim
Kredit Foto: Istimewa
Raihan laba bersih PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang melonjak 106% pada tahun buku 2025 dibayangi persoalan tunggakan pembayaran kepada PT PLN (Persero).
Komisi XII DPR RI mendesak manajemen Antam segera menuntaskan kewajiban minimal Rp719,90 miliar yang kembali menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2025, BPK melaporkan bahwa PT PLN belum menerima pendapatan dari relokasi pembangkit listrik dan penggantian Komponen C (bahan bakar) senilai minimal Rp719,90 miliar dari PT Antam.
Tunggakan tersebut terjadi akibat ketidakpastian jangka waktu pelaksanaan proyek smelter feronikel Halmahera Timur milik perseroan.
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Jalal Abdul Nasir, menegaskan sengketa tagihan ini tidak boleh berlarut-larut karena terus menjadi beban dalam pengawasan keuangan negara.
“PLN memiliki persoalan dengan Antam di proyek FeNi Halmahera Timur. Ada mobilisasi pembangkit yang sempat dibawa, tetapi tidak digunakan dan harus dikembalikan ke Sumatera. Tagihannya belum tuntas dan setiap tahun menjadi temuan BPK,” ujar Jalal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Grup MIND ID, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Antam Borong 100% Emas Freeport di 2026
Baca Juga: Tepis Isu 'Orang Dalam', Antam Perketat GCG dan Digitalisasi Emas
Jalal menekankan, meskipun kedua entitas merupakan BUMN, akuntabilitas keuangan tetap harus diprioritaskan.
“Walaupun bagi pemerintah ini seperti kantong kanan dan kiri, saya berharap Dirut MIND ID dapat mengoordinasikan agar persoalan ini tuntas dan tidak lagi menjadi temuan BPK,” tegasnya.
Kontras dengan Pertumbuhan Laba
Isu tunggakan hampir Rp720 miliar ini kontras dengan kinerja keuangan Antam yang sangat solid. Antam mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp 7,92 triliun dengan kenaikan 106% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) yang hanya Rp 3,85 triliun.
Sejalan dengan itu, Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) juga meningkat 56% menjadi Rp 10,51 triliun dari sebelumnya Rp 6,73 triliun.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyampaikan perseroan mencatatkan kinerja terbaik pada 2025.
“Tahun 2025 merupakan tahun yang solid bagi Antam. Kami berhasil mencatat pertumbuhan kinerja positif dengan laba bersih meningkat 106%,” ujarnya.
Baca Juga: Antam Bidik Eksplorasi Emas di Arab Saudi
Selain laba bersih, Antam juga membukukan pertumbuhan return on assets (ROA) sebesar 15%, yang mencerminkan penguatan fundamental perusahaan.
Namun, capaian tersebut justru memicu desakan DPR agar Antam lebih kooperatif dalam menyelesaikan kewajibannya kepada sesama BUMN.
Rekomendasi BPK
Dalam laporannya, BPK merekomendasikan Direksi PT PLN untuk berkoordinasi intensif dengan Direksi PT Antam guna menyelesaikan tagihan Komponen C dan biaya relokasi pembangkit.
BPK menilai keterlambatan pembayaran tersebut berdampak pada penerimaan biaya preservasi yang seharusnya dapat digunakan untuk mendukung operasional PLN.
Baca Juga: Antam Protes Pajak Perak 12%, Minta Disamakan dengan Emas
Penyelesaian sengketa tagihan Rp719,9 miliar ini kini menjadi sorotan utama sebagai bagian dari implementasi good corporate governance (GCG) di bawah pengawasan Badan Pengelola Investasi Danantara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri