10 Hari Gencatan Senjata Israel-Lebanon Disepakati, Jalan Menuju Perdamaian Dibuka
Kredit Foto: Reuters/Amir Cohen
Israel dan Lebanon sepakat memulai gencatan senjata selama sepuluh hari setelah pembicaraan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Kesepakatan ini menandai jeda dalam konflik antara Israel dan Kelompok Hezbollah di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan berbicara langsung dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan berencana mengundang kedua pemimpin tersebut ke Washington.
Baca Juga: Trump: Paus Leo Harus Paham, Iran Tak Boleh Punya Nuklir
Washington sendiri menyebut kedua negara telah menyepakati kerangka enam poin untuk menuju perdamaian jangka panjang. Hal ini diharapkan dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.
"Lebanon dan Israel telah mencapai kesepahaman di mana kedua negara akan bekerja untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, dan membangun keamanan sejati di sepanjang perbatasan bersama mereka, sambil tetap menjaga hak inheren dari Israel," katanya.
Netanyahu menyatakan telah menyetujui jeda sepuluh hari dan melihat peluang untuk mencapai kesepakatan bersejarah dengan Lebanon. Namun, ia menegaskan pihaknya tidak akan menarik pasukan dari Lebanon Selatan.
Israel menegaskan tuntutan utama tetap sama, yakni pembubaran dari Hezbollah. Sementara Hezbollah menyatakan gencatan senjata tidak boleh memberikan kebebasan bagi musuh untuk beroperasi di Lebanon.
Meski kesepakatan telah tercapai, terdapat ketidakpastian apakah gencatan senjata dapat bertahan, mengingat sejarah konflik panjang antara Israel dan Hezbollah.
Kesepakatan ini menjadi sorotan global karena berpotensi meredakan ketegangan kawasan sekaligus membuka peluang penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Konflik di Lebanon selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya negosiasi dari Amerika Serikat dan Iran. Pembicaraan lanjutan bahkan dipertimbangkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Adapun Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menyampaikan peringatan keras kepada Iran. Ia mengatakan bahwa pihakny siap memberikan tekanan lebih lanjut jika mereka tidak menerima proposal damai yang diberikan oleh Amerika Serikat.
"Iran dapat memilih masa depan yang makmur, jembatan emas, dan kami berharap mereka melakukannya untuk rakyatnya. Tetapi jika mereka memilih dengan buruk, maka mereka akan menghadapi blokade dan bom yang dijatuhkan pada infrastruktur, listrik dan energi," kata Hegseth.
Senada, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Dan Caine menegaskan bahwa pasukannya siap bertindak kapan saja. Menurutnya, pihaknya hanya menunggu perintah dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Kami siap melanjutkan operasi tempur besar dalam waktu singkat,” katanya.
Angkatan Laut Amerika Serikat saat ini tengah melakukan operasi blokade di Selat Hormuz. Pihaknya mengejar setiap kapal yang berupaya berlajar menuju atau pun keluar pelabuhan dari Iran.
Baca Juga: Amerika Serikat: China Akan Hentikan Impor Minyak Iran
Menurut pejabat militer, setidaknya sudah ada 13 kapal telah memilih berbalik arah. Laporan juga menyebut belum ada kapal yang diperiksa atau disita sejauh ini berkat operasi blokade di Selat Hormuz.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: