Rupiah Menguat ke Rp17.142 per Dolar AS di Tengah Resiliensi Ekonomi Nasional
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di level Rp17.142 pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Mata uang Garuda menguat 26 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.168 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menuturkan penguatan rupiah terjadi seiring ekonomi Indonesia yang tetap tangguh di tengah tekanan geopolitik global.
Pemerintah, kata Ibrahim, tengah berupaya meningkatkan investasi dengan memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasinya guna menciptakan perbaikan kondisi ekonomi secara berkelanjutan.
“Indonesia tengah menggeser fokus pembangunan, tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Transformasi ini didorong melalui tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan produktivitas,” kata Ibrahim.
Selain itu, kinerja ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, ditopang oleh pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang terjaga.
Ketahanan ini tidak terlepas dari peran APBN sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat, dengan tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3% terhadap PDB.
“Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN,” ujarnya.
Dari eksternal, sentimen penguatan rupiah juga dipengaruhi dinamika global yang masih berfluktuasi. Ketidakpastian geopolitik, termasuk perkembangan konflik dan arah pembicaraan internasional, turut membentuk pergerakan pasar.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.188 di Tengah Harapan Damai Timur Tengah
Baca Juga: IMF Pangkas Outlook RI, Rupiah Langsung Terkapar
“Trump mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan lebih lanjut minggu ini,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, pejabat Iran menyebut pembicaraan sulit dilakukan selama Amerika Serikat masih mempertahankan blokade angkatan lautnya. Namun, laporan menunjukkan Teheran tetap mengirim delegasi ke Islamabad melalui mediator regional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: