Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Situasi Terkini di Selat Hormuz, Iran Tangkap 2 Kapal Asing dan Tembak Kapal Lainnya yang Berusaha Kabur

        Situasi Terkini di Selat Hormuz, Iran Tangkap 2 Kapal Asing dan Tembak Kapal Lainnya yang Berusaha Kabur Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menangkap dua kapal kontainer asing dan menembaki satu kapal lainnya yang berusaha keluar dari Selat Hormuz pada hari Rabu.

        Insiden ini menandai eskalasi ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran di jalur pelayaran strategis tersebut, menyusul dimulainya blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April lalu.

        Tindakan Teheran ini merupakan aksi balasan setelah militer AS menembak dan menyita kapal kontainer berbendera Iran, Touska, di Laut Arab utara dekat Selat Hormuz pada hari Senin. Kapal tersebut diketahui sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Bandar Abbas, Iran. Merespons penyitaan tersebut, pemerintah Iran secara resmi menuduh AS melakukan "pembajakan".

        Eskalasi berlanjut pada hari Rabu ketika militer AS mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia. Menurut laporan Reuters, kapal-kapal tersebut dialihkan dari posisi awal mereka di sekitar perairan India, Malaysia, dan Sri Lanka. 

        Baca Juga: Patahkan Klaim Amerika Serikat, Taktik Kapal Cepat Iran Jadi Ancaman Baru di Selat Hormuz

        Rangkaian serangan, penangkapan, dan pencegatan kapal oleh kedua belah pihak menunjukkan bahwa perang laut masih terus berlangsung di Selat Hormuz.

        Padahal, gencatan senjata antara AS dan Iran saat ini tengah diberlakukan pasca perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

        Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada masa damai, jalur ini dilalui oleh sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

        Pasca pecahnya konflik pada akhir Februari, Teheran menutup jalur tersebut untuk semua kapal. Pada 4 Maret, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan kendali penuh atas selat tersebut dan mewajibkan seluruh kapal untuk memiliki izin melintas.

        Pada titik tersempitnya yang berjarak 21 mil laut (sekitar 39 km), selat ini sepenuhnya berada di dalam perairan teritorial Iran dan Oman. Iran bersikeras bahwa kondisi geografis tersebut secara hukum memberi mereka dan Oman hak untuk mengatur lalu lintas maritim.

        Selama hampir delapan pekan, Iran telah mengendalikan secara sepihak kapal mana saja yang diizinkan keluar dari selat menuju Teluk Oman. Sementara itu, sejak 13 April, militer AS mengambil alih kendali atas kapal-kapal yang akan masuk dari Laut Arab menuju Teluk.

        Situasi ini memicu kebuntuan maritim yang serius. Lalu lintas pelayaran global kini terjebak di tengah perseteruan dua kekuatan militer yang menguasai titik masuk dan keluar Selat Hormuz, mengharuskan setiap kapal komersial untuk mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak agar dapat melintas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: