Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Praka Rico Meninggal di Lebanon, Indonesia Kehilangan 4 Prajurit dalam Sebulan

        Praka Rico Meninggal di Lebanon, Indonesia Kehilangan 4 Prajurit dalam Sebulan Kredit Foto: UNIFIL
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gelombang serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius komunitas internasional. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak setelah kehilangan beberapa prajurit dalam waktu singkat.

        Dalam sebulan terakhir, empat personel TNI gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon selatan. Rangkaian insiden ini menandai meningkatnya risiko bagi pasukan yang bertugas di bawah mandat PBB.

        Korban terbaru adalah Rico Pramudia yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif. Prajurit berusia 31 tahun itu mengalami luka serius akibat ledakan proyektil di markasnya pada akhir Maret lalu.

        UNIFIL mengonfirmasi bahwa Rico wafat setelah hampir sebulan dirawat di rumah sakit di Beirut.

        “UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil,” demikian pernyataan resmi mereka lewat platform X, Jumat (24/4/2026).

        Selain menyampaikan duka cita, UNIFIL juga menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat ditoleransi.

        “Serangan yang disengaja terhadap personel penjaga perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional… kemungkinan juga merupakan kejahatan perang,” tegasnya.

        Pernyataan tersebut memperlihatkan keseriusan situasi keamanan di wilayah konflik yang terus memanas. Tekanan internasional pun meningkat agar semua pihak mematuhi hukum internasional dan melindungi pasukan PBB.

        Sebelumnya, tiga prajurit TNI lainnya juga gugur dalam rentetan serangan pada akhir Maret hingga awal April. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan.

        Baca Juga: Istana Pastikan Tidak Ada Rencana Penarikan Pasukan TNI dari UNIFIL

        Serangkaian serangan itu juga menyebabkan sedikitnya tujuh prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Kondisi ini mempertegas tingginya risiko yang dihadapi personel Indonesia dalam misi perdamaian.

        Tidak hanya Indonesia, negara lain seperti Perancis juga kehilangan tentaranya dalam eskalasi konflik yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap pasukan PBB bersifat luas dan terus meningkat.

        Dengan situasi yang semakin memanas, keselamatan pasukan penjaga perdamaian kini menjadi sorotan utama dunia internasional. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa misi perdamaian tetap memiliki risiko besar di tengah konflik bersenjata.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: