Jerman: Ukraina Mungkin Harus Memberikan Wilayah ke Rusia Demi Perdamaian dan Akses ke Uni Eropa
Kredit Foto: Reuters/Dado Ruvic
Jerman memberikan pernyataan kontroversial terkait dengan upaya damai dari Rusia dan Ukraina. Menurutnya, Kiev kemungkinan harus menyerahkan sebagian wilayahnya agar bisa menghentikan perang dengan Moskow.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyatakan bahwa negara tersebut kemungkinan harus menerima kenyataan bahwa sebagian wilayahnya tidak lagi berada di bawah kendalinya dalam kesepakatan damai dengan Rusia.
Baca Juga: Rusia-Teheran Intensifkan Diplomasi Saat Trump Dikecewakan Proposal Terbaru Iran
"Pada suatu titik, mereka akan menandatangani gencatan senjata; pada suatu titik, semoga, perjanjian damai dengan Rusia. Lalu bisa jadi sebagian wilayah mereka tidak lagi menjadi bagian Ukraina," ujar Merz.
Merz mengaitkan kemungkinan konsesi wilayah tersebut dengan peluang negara itu untuk bergabung dengan Uni Eropa. Ukraina saat ini telah berstatus sebagai kandidat resmi, namun proses aksesi masih panjang dan penuh syarat.
"Jika Volodymyr Zelenskiy ingin menyampaikan ini kepada rakyatnya dan mendapatkan dukungan mayoritas, serta perlu mengadakan referendum, maka ia harus sekaligus mengatakan: ‘Saya telah membuka jalan ke Eropa’," kata Merz.
Merz juga memperingatkan agar tidak ada harapan berlebihan terkait percepatan keanggotaan dari Ukraina. Menurutnya, negara tersebut tidak dapat bergabung selama masih dalam kondisi perang dan harus memenuhi berbagai kriteria, termasuk supremasi hukum dan pemberantasan korupsi.
"Zelenskiy punya ide bergabung pada 1 Januari 2027. Itu tidak akan berhasil. Bahkan tahun depannya pun tidak realistis," ujarnya.
Adapun Merz mengusulkan langkah sementara seperti memberikan peran pengamat bagi Ukraina di Uni Eropa. Menurutnya, gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari para pemimpin kawasan euro dalam pertemuan tingkat tinggi pekan lalu di Siprus.
Perang Rusia dan Ukraina sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengatakan bahwa ada permusuhan yang besar antara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal tersebut membuat sulit perdamaian untuk hadir antara Moskow dan Kiev.
Trump mengatakan bahwa baru-baru ini dirinya melakukan percakapan yang baik dengan keduanya, dalam upaya menyelesaikan perang dari Rusia dan Ukraina.
"Kami sedang mengerjakan situasi Rusia dan Ukraina. Mudah-mudahan kami akan berhasil," kata Trump.
Trump sendiri tidak mengungkapkan kapan terakhir kali ia berbicara dengan Putin dan Zelenskiy. Namun menegaskan komunikasi tersebut berjalan positif.
"Saya memang berbicara dengan dia (Putin) dan saya juga berbicara dengan Zelenskiy. Itu percakapan yang baik," ujarnya.
Trump juga menyinggung hubungan pribadi antara kedua pemimpin yang dinilainya penuh ketegangan. Hal ini menurutnya merupakan salah satu tantangan dalam negosiasi damai dari Rusia dan Ukraina.
Baca Juga: Rusia Terpukau, Putin Puji Kehebatan Iran Hadapi Amerika Serikat
"Kebencian antara kedua presiden itu tidak masuk akal. Itu gila. Kebencian adalah hal buruk ketika kita mencoba menyelesaikan sesuatu," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: