Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Produsen Indomie (ICBP) Raih Penjualan Rp21,72 Triliun di Kuartal I 2026

        Produsen Indomie (ICBP) Raih Penjualan Rp21,72 Triliun di Kuartal I 2026 Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mengawali tahun 2026 dengan performa yang tetap solid. Hingga 31 Maret 2026, produsen Indomie ini mencatatkan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp21,72 triliun, meningkat sekitar 8% dibandingkan Rp20,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

        Segmen mie instan masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp15,72 triliun, diikuti dairy Rp2,85 triliun, makanan ringan Rp1,24 triliun, penyedap makanan Rp1,15 triliun, minuman Rp360,84 miliar, serta nutrisi dan makanan khusus Rp377,27 miliar.

        Dari sisi geografis, penjualan domestik mencapai Rp15,47 triliun, sementara pasar Asia dan Afrika menyumbang Rp5,34 triliun, serta segmen lainnya Rp899,58 miliar.

        Di tengah tekanan eksternal, Perseroan tetap mampu menjaga marjin laba usaha di level sehat sekitar 21,3%. Namun, laba usaha tercatat turun 10% menjadi Rp4,62 triliun dari Rp5,15 triliun pada kuartal pertama 2025. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya laba selisih kurs dari aktivitas operasional.

        Hal serupa juga terlihat pada laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang turun tipis 3% menjadi Rp2,57 triliun, dibandingkan Rp2,66 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

        "Kami mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang baik. ICBP terus memberikan penjualan yang meningkat dan mempertahankan marjin profitabilitas yang sehat," kata Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP.

        Baca Juga: Penjualan Indofood (INDF) Milik Grup Salim Tembus Rp33,89 Triliun di Q1 2026

        Baca Juga: Unilever (UNVR) Raih Penjualan Rp8,4 Triliun di Kuartal I 2026, Laba Naik 73%

        Dari sisi neraca, posisi keuangan Perseroan juga menunjukkan penguatan. Total aset per Maret 2026 meningkat menjadi Rp140,15 triliun dari Rp135,54 triliun pada akhir 2025. Liabilitas bengkak menjadi Rp63,13 triliun dari Rp61,86 triliun, sementara ekuitas tumbuh menjadi Rp77,02 triliun dari Rp73,68 triliun.

        "Dengan tetap waspada terhadap potensi gejolak makroekonomi dan berbagai faktor risiko eksternal, kami akan terus fokus dan beradaptasi dengan cepat untuk menangkap berbagai peluang pertumbuhan, memperkuat daya saing, serta mempertahankan posisi keuangan yang sehat," tutup Anthoni Salim. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: