Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Purbaya Siapkan Insentif PPN DTP Mobil Listrik Hingga 100 Persen

        Purbaya Siapkan Insentif PPN DTP Mobil Listrik Hingga 100 Persen Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tengah menyiapkan insentif pembelian mobil listrik atau electric vehicle (EV) berbasis baterai nikel dalam bentuk pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP).

        Menurut Purbaya, besaran insentif PPN DTP yang diberikan untuk pembelian EV akan berada pada kisaran 40 persen hingga 100 persen.

        "Jadi yang diomongin tadi PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100%, ada yang 40%, nanti masih masih didiskusikan skemanya. Itu untuk utamanya EV, yang bukan hybrid," kata Purbaya dalam konpers APBN KiTA, Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).

        Purbaya menjelaskan, pemerintah akan membedakan skema insentif berdasarkan kategori baterai yang digunakan, yakni baterai berbasis nikel dan non-nikel. Rincian kebijakan tersebut nantinya akan diumumkan oleh Kementerian Perindustrian.

        "Nanti yang baterainya berdasarkan nikel sama non-nikel akan beda skemanya. Tapi yang itu nanti, nanti Menteri Perindustrian," tambahnya.

        Namun, Purbaya menyebut insentif penggunaan baterai nikel akan lebih besar. Hal ini sebagai strategi untuk mendorong pemanfaatan sumber daya mineral dalam negeri, sekaligus memperkuat hilirisasi industri baterai nasional.

        Baca Juga: Purbaya Siapkan Insentif 200 Ribu untuk Mobil EV dan Motor Listrik di Awal Juni

        Baca Juga: Temui Purbaya, Menperin Bahas Hilal Insentif Kendaraan Listrik

        "Kenapa saya pakai yang nikel lebih besar subsidinya, karena supaya nikel kita kepake. Dulu saya baca di Economist, judulnya 'Mimpi Indonesia Menguasai Dunia Baterai hilang' karena China pakai bukan nikel. Kita balik sekarang, nikelnya kita pakai, biar punya kita nikelnya bisa terpakai dan hilirisasi teknologi baterainya berjalan," tuturnya.

        Lebih lanjut, ia mengaku telah berdiskusi dengan Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, terkait perkembangan teknologi baterai berbasis nikel. Berdasarkan diskusi tersebut, baterai nikel dinilai memiliki teknologi yang lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya.

        "Tadi saya tanya Pak Sigit di Danantara, dia kan ahlinya. 'Itu nikel sama yang China bagus mana baterainya?' Dia bilang bagusnya yang nikel, itu third generation. Kalau yang LTE itu second generation. Jadi kita geraknya ke sana, supaya sumber daya kita juga bisa dipakai secara maksimal," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: