Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Emas Dunia Diproyeksi Bergerak Fluktuatif Pekan Depan

        Harga Emas Dunia Diproyeksi Bergerak Fluktuatif Pekan Depan Kredit Foto: IDNGold
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam perdagangan pekan depan, di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia akan bergerak pada rentang support US$4.389 hingga resistance US$4.851 dolar AS per troy ons.

        Sebelumnya, harga emas dunia ditutup di level US$4.616 dolar AS per troy ons.

        “Kalau terkoreksi, support pertama emas berada di level US$4.520  dan support kedua di 4.389 dolar per troy ons. Support kedua kalau seandainya melemah, untuk harga emas itu di US$4.389,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).

        Ibrahim menambahkan, apabila harga emas dunia mengalami kenaikan resistance pertama akan berada di level US$4.702 per troy ons. Sedangkan support kedua bakal tembus hingga US$4.851 per troy ons.

        "Kalau seandainya menguat, resistance kedua itu di US$4.851 per troy ons," kata dia.

        Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan pergerakan harga emas dipengaruhi sejumlah faktor utama, terutama kondisi geopolitik global yang masih memanas. Konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz, menjadi perhatian utama investor dunia.

        Selain itu, ancaman Rusia terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

        Kondisi tersebut membuat emas kembali diminati sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

        Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik juga meningkatkan risiko inflasi global. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

        Data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih cukup kuat turut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

        Meski demikian, pasar masih melihat peluang penguatan emas apabila ketegangan geopolitik terus meningkat atau tekanan ekonomi global memburuk.

        Baca Juga: Harga Emas Antam Hari ini Tetap Tak Bergerak di Level Rp2.839.000 per Gram

        Baca Juga: Logam Mulia Berpotensi Sentuh Rp2,9 Juta per Gram, Ini Faktor Pendorongnya

        Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, permintaan emas dari bank sentral dunia juga menjadi penopang harga. Bank Sentral Tiongkok tercatat melakukan pembelian emas sekitar 7,15 ton pada kuartal pertama tahun ini untuk memperkuat cadangan devisa nasionalnya.

        Dengan tambahan tersebut, cadangan emas Tiongkok kini mencapai sekitar 2.313,48 ton dan masuk lima besar negara dengan cadangan emas terbesar di dunia.

        Dalam perdagangan pekan depan, pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta pergerakan inflasi global yang berpotensi memengaruhi arah harga emas dunia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: